Bunuh Diri Bukan Solusi, Pesan Bagi Para Mahasiswa

Bunuh Diri Bukan Solusi, Pesan Bagi Para Mahasiswa

Suatu pagi saya membaca berita tentang seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang bunuh diri di kamar kos nya. Di tengah situasi tak menentu seperti ini tentunya tekanan hidup makin kuat. Begitu juga tuntutan perkuliahan yang tadinya konvensional, kini harus secara tiba-tiba beralih secara online. Awalnya tentu kita pikir pembelajaran yang berbasis teknologi dan internet akan memberikan kemudahan bagi para peserta didik. Ternyata tidak. Tantangannya bahkan lebih besar tak jarang sering ditemukan hambatan-hambatan, mulai dari sinyal internet yang terbatas hingga biaya kuota yang mahal.

 

Saya langsung teringat adik-adik mahasiswa yang tengah saya bimbing. Lantas saya kirimkan link berita tentang bunuh diri itu ke grup mahasiswa saya sembari menulis pesan yang cukup panjang.

 

Pesan di grup whatsapp grup itu saya buka dengan kalimat ini, “Jangan ada yang seperti ini yah. Kuliah dengan segala beban tugasnya, jalani saja baik-baik.”

 

Bila memang tekanannya berat, cobalah untuk sedikit relax. Jangan menggebu-gebu. Kuliah biasa aja. Tidak perlu berambisi untuk dapat nilai tinggi. Standar lulus saja sudah cukup. Yang penting lulus. Jangan sampai gagal. Toh kuliah bukan satu-satunya jaminan kesuksesan masa depan.

 

Kalau diri kita sendiri atau ada teman yang sedang stress, depresi dan tertekan. Cobalah terbuka, cari teman untuk sekedar berbagi cerita, cari teman yang mau dengarkan curhat kita.

 

Sebagai teman, bila ada orang-orang di lingkaran kita yang seperti itu, cobalah untuk bantu dengan setidaknya sekedar mendengar keluh kesahnya. Bila tak bisa bantu banyak, jadi tempat menuangkan keluh kesah saja sudah bisa membantu kawan-kawan yang sedang depresi tadi guna melonggarkan masalah hidupnya, melegakan perasaannya dan meredakan tekanan batinnya.

 

Ingat, ketika memutuskan untuk mengakhiri hidup, memang yang bersangkutan memang merasa akan selesai semua masalah yang ia rasakan. Namun, hal itu membuat masalah yang jauh lebih bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Ada keluarga yang mungkin akan bertahun-tahun murung merasa kehilangan, ada orang-orang di sekitar yang merasa terpukul atas kepergian itu dan banyak lagi masalah lainnya.

 

Peran Konselor Kampus

 

Di kampus di luar negeri, ada layanan konselor, psikolog/psikiater khusus untuk membantu mahasiswa menghadapi permasalahan seperti ini.

 

Psikolog kampus tak hanya bekerja untuk membantu mahasiswa menghadapi masalah berat tapi juga masalah yang kelihatan kecil namun krusial seputar studi, hidup pribadi dan keluarga maupun sosial mahasiswa.

 

Oh ya, di zaman sekolah SMP maupun SMA dahulu, kita punya guru BK (Bimbingan Konseling), ya walaupun guru BK identik dengan guru galak dan anak-anak bermasalah ataupun nakal.

 

Tapi sebenarnya BK, Bimbingan Konseling, fungsinya sebagai konseling, perannya sebagai konselor. Memberikan bantuan pelayanan yang berkaitan dengan hal-hal psikis para peserta didik.

 

Pandangan Mahasiswa Luar Negeri tentang Nilai Mata Kuliah

 

Oh ya satu lagi, untuk urusan studi di kampus, di Negeri Barat, mahasiwa perguruan tinggi tak terbiasa bertanya pada temannya berapa nilai yang temannya dapatkan. Ini sama sekali bukan suatu kebiasan bagi mereka.

 

Kita di Indonesia terbiasa bertanya seperti ini, misalnya: “eh, kamu dapat nilai apa di mata kuliah si dosen itu?”

 

Di luar negeri mereka cuma tanya begini: “Anyway, do you pass that unit?” artinya “ngomong-ngomong, kamu lulus engga mata kuliah sama si dosen itu?”

 

Mereka engga fokus pada nilai. Mereka tanya Pass or Not? (Lulus atau tidak).

 

Jawabannya pun singkat. “Fortunately, I passed it”, kalau lulus.

 

“Unfornatunately, I didn’t pass”, kalau tak lulus.

 

Nah, kemudian barulah sekedar basa basi, dan tambahan informasi berikutnya, kalaupun mau, barulah mereka kasih tau, nilai mereka dikasih angka atau persentase apa.

 

Terlepas dari itu semua, apapun hasil dari suatu mata kuliah, mereka selalu coba kasih respon positif satu sama lain dengan saling menyemangati.

 

Yang terpenting dari mereka adalah proses pembelajarannya. Ilmu apa yang mereka dapatkan dan bagaimana mereka bisa melewati perkuliahan.

 

Mereka juga mempunyai hak untuk appeal atau mengajukan banding bila sekiranya nilai yang ia peroleh dirasa tidak sesuai ekspektasi. Misal, mereka sudah bekerja keras, selalu mengumpulkan tugas dan mengikuti ujian. Selain itu selalu mendapat nilai bagus di kuis mingguan atau bulanan, tapi malah mendapatkan nilai akhir yang rendah. Mereka boleh mengajukan appeal kepada dosen untuk dipertimbangkan ulang nilainya agar diperbaiki.

 

Pertimbangkan tips ini

 

Bila merasa butuh waktu yang lebih panjang dalam menyelesaikan satu tugas, cobalah bersikap terbuka dan temui dosen yang bersangkutan untuk minta keringanan dispensasi. Seharusnya dosen yang paham sikon ini akan membantu.

 

Bila merasa kesulitan ekonomi, cobalah berbicara kepada salah satu pegawai kampus yang berwenang untuk dimintai bantuan mencarikan solusi keuangan dan pembiayaan. Kampus biasanya menyediakan dana bantuan sosial dan beberapa beasiswa yang bisa dialokasikan bagi mahasiswa yang membutuhkan.

 

Bila memang punya masalah sosial dan keluarga, cobalah bercerita ke salah satu orang teman yang dipercaya untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di kepala supaya lebih ringan.

Yanri Ramdhano ialah tokoh muda Jambi yang saat ini berperan dipercaya sebagai Staf Ahli Rektor UIN STS Jambi. Selain itu, Yanri Ramdhano ialah Presenter Berita Jambi TV dan Konsultan Pendidikan. Yanri Ramdhano merupakan penerima beasiswa Program Master (S2) dari Pemerintah Australia melalui skema Australia Awards Scholarship (AAS) 2017, lulus dari program Master of Education di Victoria University Melbourne Australia Pada akhir tahun 2019. Di akhir masa study ia menjabat sebagai Presiden Persatuan Pelajar Indonesia Australia Victoria University (PPIA VU) 2018-2019; Tutor di Global English Kampung Inggris, Pare, Kediri – Jawa Timur 2016 s/d 2018; Alumni IVLP OD TESOL Leadership Exchange di Amerika Serikat (Baltimore MD, Washington DC, Sacramento, San Francisco) 2016; Counselor Camp EPIC 2 RELO US Embassy Jakarta tahun 2016 di Kota Bukittinggi; Alumni Camp EPIC 1 RELO US Embassy Jakarta Tahun 2015 di Kota Bandung; Duta Bahasa Provinsi Jambi 2013-2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *