Q&A 4: Cuti kuliah bikin kuliah engga lulus-lulus???!

Q&A 4: Cuti kuliah bikin kuliah engga lulus-lulus???!

Halo kawan-kawan yang berbahagia. Kali ini saya ingin merepost beberapa tanya jawab yang saya anggap penting dan memang paling sering muncul di kolom komentar artikel blog saya. Publikasi ini adalah Q&A Part 4 dan tulisannya juga mungkin telah mengalami beberapa proses penyesuaian.

Pertanyaan: 

Kak, pas cuti kuliah kakak lulus S1 nya telat ngga Kak? Aku soalnya pengen juga cuti kuliah 1 semester. Tapi kata temen-teman ngga boleh. Katanya nanti kalo aku cuti ngga lulus-lulus kuliahnya.. Plase give me an advice hehe

Jawab:

Tentu saja, dengan keputusan saya cuti di semester 3 waktu S1 dulu itu, saya jadi sedikit terlambat lulus kuliah. Umumnya mahasiswa dengan standar prestasi yang baik ataupun rata-rata akan lulus S1 dalam waktu 3,5 atau 4 tahun (yaitu tahun ke 4 kuliah), sementara saya lulus di tahun ke 5.

Walaupun begitu, kuliah saya tetap terhitung 7 semester lho, yaitu semester 1,2,4,5,6,7,9. Saya wisuda di semester ke 10. Saya terhitung tidak kuliah selama 2 semester, yaitu di semester 3 (ke Kampung Inggris) dan di semester 8 (Kerja di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, di akhir masa jabatan sebagai Duta Bahasa Provinsi Jambi).

Namun, menurut saya, lulus kuliah cepat atau lambat itu nilainya relatif, tergantung pribadi masing-masing. Selama kita memaksimalkan waktu dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi hidup kita dalam masa perkuliahan itu, tentu lambat atau cepat lulus bukan jadi patokan ukuran keberhasilan. Kita sendirilah yang menentukan nasib kita di hari ini dan di masa depan akan menjadi seperti apa. Selama keputusan yang diambil itu diyakini bermanfaat dan memiliki dampak yang besar dan tentunya baik di masa depan, maka ambillah.

Yang terpenting, setelah kita mengambil keputusan atas hidup kita, maka berkomitmenlah untuk menyelesaikannya sampai berhasil dan mencapai target yang dicita-citakan. Singkatnya, tuntaskan perjuangan itu sampai selesai. Selain itu, bersiap jugalah untuk menerima segala konsekuensinya nanti. Saya tidak khawatir dengan konsekuensi masa depan yang akan saya terima, bila memang menurut saya apa yang sedang diusahakan itu sudah di jalur yang benar. Bahkan saya yakin, konsekuensi itu akan berubah menjadi hasil yang positif dan memuaskan.

Saya pribadi, selama kuliah S1 dulu tidak pernah berpedoman dengan apa yang dikatakan teman-teman apalagi orang lain. Prinsip hidup saya dalam mengambil keputusan adalah “diridhoi agama (Tuhan)” dan “direstui orang tua”.

 

Yanri Ramdhano is an Indonesian educator and a news presenter of Jambi TV. He is also an Awardee of Australia Awards Scholarship, and he is currently studying Master of Education at Victoria University, Melbourne, Australia. He is a teacher in the English Village, Pare - Kediri, East Java, Indonesia; was an alumnus of IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016; a Counsellor of Pre-service English Teacher EPIC Camp 2016 RELO US Embassy Jakarta; a Camper of RELO EPIC Camp 2015 US Embassy Jakarta; an Ambassador of Indonesian Language for Jambi Province 2013-2014; a teacher at MEI English Course Jambi 2012-2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *