Q&A 3: Alasan Saya Memilih Jurusan S2 yang Sedikit Berbeda dengan S1

Q&A 3: Alasan Saya Memilih Jurusan S2 yang Sedikit Berbeda dengan S1

Halo kawan-kawan yang berbahagia. Kali ini saya ingin merepost beberapa tanya jawab yang saya anggap penting dan memang paling sering muncul di kolom komentar artikel blog saya. Publikasi ini adalah Q&A Part 3 dan tulisannya juga mungkin telah mengalami beberapa proses penyesuaian.

Pertanyaan: 

Halo kak, sejauh penelusuran saya (maaf jadi menelusuri, hehe) tentang riwayat pendidikan kakak. S1 kakak itu di Pendidikan Bahasa Inggris, tapi, untuk master mengambil Master of Education. Kenapa kakak tidak mengambil TESOL yang linier dengan S1 dulu?

Berikutnya, tulisan kakak juga bahwa setelah lulus akan mengajar di Universitas di Jambi, apakah kakak akan mengajar di department S1 dulu atau di department lain?

Jawab:

Begini ceritanya (alasannya):

Niat ingin mengambil jurusan ini sudah lama sekali saya cita-citakan.

Secara tidak serius dulu alasan saya adalah :

“Kenapa saya harus belajar (mendalami) Bahasa Inggris jauh-jauh sampai ke luar negeri jikalau nantinya ilmu itu tidak bisa dirasakan manfaatnya bagi seluruh orang yang ada di Indonesia, kalau saya bisa belajar manajamen dan kurikulum yang nanti ilmu dan manfaatnya bisa diterapkan di semua jenjang pendidikan, di seluruh wilayah hingga pelosok desa manapun di Indonesia.”

Di kampung saya, Rimbo Bujang (Kabupaten Tebo – Jambi), misalnya, Kursusan Bahasa Inggris saja pada tutup. Maksudnya tidak semua orang mau belajar Bahasa Inggris. Tidak semua jenjang pendidikan di sistem pendidikan kita mewajibkan Bahasa Inggris. Ya, walaupun kita mengakui bahwasanya mampu menguasai salah satu bahasa asing seperti Bahasa Inggris ini sangat teramat penting untuk menjadi alat untuk menembus batas teritorial negara kita guna melangkah lebih jauh dan belajar lebih banyak untuk meningkatkan kapasitas diri dan berkarya untuk negeri.

Sejujurnya, penjelasan yang sebenarnya di balik itu semua adalah:

Jikalau saya belajar dan mendalami Evaluasi, Manajemen dan Kurikulum pendidikan termasuk juga E-Learning, saya insyaAllah memiliki ruang yang luas untuk benar-benar membawa manfaat ke seluruh jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari TK hingga perguruan tinggi, dari kota sampai pelosok desa manapun (sebagai seorang pembuat kebijakan/ Policy Maker maupun penggagas pembaharuan).

Dengan jurusan sekarang ini, loncatan saya adalah menjadi Pengajar Ahli di Fakultas (ruang lingkup yg lebih luas), jadi saya tidak hanya berkutat di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris saja. Saya sangat ingin berkontribusi lebih luas dan besar di pembaharuan dan peningkatan kualitas di tingkat Fakultas Pendidikan (FKIP). Saya bisa mengajar Kurikulum Pendidikan, Evaluasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, E-Learning dll di jurusan lain yang ada di Fakultas Pendidikan di Universitas saya. Nah, saya juga tetap akan bisa mengajar (sebagai dosen) di jurusan Bahasa Inggris tentunya.

Selain itu, ini juga mewakili kebutuhan institusi (kampus) saya. Tenaga pengajar lulusan luar negeri kami masih cukup minim khususnya di Fakultas Pendidikan. Bahkan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris saya belum mempunyai dosen (tetap maupun tidak tetap) lulusan luar negeri apalagi yang memiliki gagasan internasional dan visioner.

Bicara linieritas, jurusan yang saya ambil sekarang tentu saja (masih) linier dengan latar belakang S1 karena tetap di bidang pendidikan.

Kenapa tidak ambil TESOL?

Walaupun tidak belajar di Master of TESOL, saya Alhamdulillah juga sudah bersertifikat TESOL. Pada 2016 lalu saya salah satu delegasi Indonesia perwakilan Regional English Language Office (RELO) US Embassy Jakarta untuk menghadiri The 50th TESOL Convention diselenggarakan di Baltimore, Maryland District (Amerika Serikat) selama 1 minggu penuh, diikuti dengan International Visitor Leadership Program (IVLP) di minggu berikutnya di beberapa kota di Amerika Serikat.

Selain itu, yang sangat teramat menginspirasi saya adalah program Pre-service Teacher EPIC Camp yang diselenggarakan oleh RELO juga yang saya ikuti di tahun 2015 (sebagai peserta) dan 2016 (sebagai konselor) dimana kami diajarkan untuk mengajar Bahasa Inggris secara kreatif dan menyenangkan dengan sistem Student-Centered dan banyak lagi hal-hal lainnya yang membuka mata dan pikiran saya yang benar-benar sangat membantu meningkatkan kualitas diri saya sebagai seorang guru Bahasa Inggris.

Dari sana jualah saya tersadar, kenapa tidak saya terapkan sistem pengajaran seperti itu di mata pelajaran lain. Saya yakin saya bisa membawa penerapan metode pengajaran seperti itu di jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah. Untuk itu, tentu saya harus mendalami bidang tersebut secara professional yang saya lakukan salah satunya dengan memilih jurusan Master of Education saat ini.

Ada hal yang menarik 2 bulan sebelum keberangkatan saya ke Australia, selama November dan Desember 2017, saya mengambil cuti panjang dari pekerjaan menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tua dan adik-adik saya. Nah, suatu ketika saya mengajak adik kedua saya (kelas 4 SD) untuk membuka buku pelajarannya dan belajar bersama atas bimbingan saya. Saya lihat dari buku tersebut, ternyata pemerintah sudah menerapkan Sistem Tematik Integrative (TEMA). Sistem pembelajaran berbasis TEMA Ini merupakan sebagian kecil dari sistem pendidikan yang saya pelajari dari RELO dan yang saya observasi dari sekolah-sekolah di Amerika Serikat (Barat). Mengajarkan anak SD inipun tak terlepas dari bantuan teknologi internet dan perangkat lainnya dalam hal menyediakan bahan-bahan dan materi ajarnya. Saya praktikan itu ke adik saya di rumah dan terbukti semangat belajar nya meningkat.

Ini sangat menarik, seharusnya beginilah pendidikan dibawakan. Tapi masalahnya adalah, (jujur saja, harus diakui) tidak semua guru sekolah dasar mengerti cara membawakan/ mengajarkan sistem ini kepada anak muridnya. Permasalahan ini khususnya dihadapi oleh pendidikan kita di daerah, seperti desa maupun tempat terpencil.

Nah, inilah PR kita semua dan pemerintah.

Saya sebagai seorang yang mempelajari dan mendalami pedagogy di Fakultas Pendidikan memiliki tanggung jawab moril untuk berkontribusi bagi dunia pendidikan Indonesia yang akan saya mulai dari Fakultas saya.

Ini mungkin terlihat seperti rencana yang sangat ambisius, tapi saya yakin itu semua bisa dilakukan dan diwujudkan (Everything is possible). Saya percaya prinsip itu. Saya akan belajar terus untuk menghasilkan ide yang workable.

Kira-kira seperti itulah sepenggal kisah dari keputusan hidup yang saya ambil ini.

 

 

Yanri Ramdhano is an Indonesian educator and a news presenter of Jambi TV. He is also an Awardee of Australia Awards Scholarship, and he is currently studying Master of Education at Victoria University, Melbourne, Australia. He is a teacher in the English Village, Pare - Kediri, East Java, Indonesia; was an alumnus of IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016; a Counsellor of Pre-service English Teacher EPIC Camp 2016 RELO US Embassy Jakarta; a Camper of RELO EPIC Camp 2015 US Embassy Jakarta; an Ambassador of Indonesian Language for Jambi Province 2013-2014; a teacher at MEI English Course Jambi 2012-2015.

2 thoughts on “Q&A 3: Alasan Saya Memilih Jurusan S2 yang Sedikit Berbeda dengan S1

  1. Hi kak, saya ingin tanya mengenai salah satu syarat dokumen yang perlu disediakan untuk aplikasi AAS program master. Apakah wajib bagi applicant untuk menyediakan referee report? Ataukah syarat ini hanya berlaku untuk applicant program PhD? Karena syarat untuk referee report ini berbeda pada halaman FAQ dan handbook yang disediakan oleh AAS. Terima kasih sebelumnya. 🙂

    1. Hi Beatrix,

      Menurut saya, kita bisa gunakan Brosur AAS untuk Indonesia sebagai rujukan utama. Namun, prinsip saya, bila memang kita bisa mengusahakan untuk mendapatkan surat rekomendasi tersebut (untuk pelamar Master), kenapa tidak.

      Saya pribadi dulu di tahapan administrasi itu melampirkan surat rekomendasi dari 2 orang referees, atasan dan dosen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *