Australia Awards Scholarship (AAS)

Pengalaman sebagai pelajaran, menyewa rumah di Melbourne

Catatan tambahan penting yang harus saya sampaikan kepada kawan-kawan pembaca –walaupun ini terdengar aneh dan berat untuk dituliskan, tapi demi kebaikan– adalah bahwasanya kawan-kawan jangan heran bila suatu saat menemukan orang-orang/pelajar Indonesia yang sudah terlebih dahulu tinggal di Australia yang “menduitkan” pelajar-pelajar Indonesia yang baru datang atau baru saja akan memulai study di Australia. Penyakit seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga dibawa sampai ke luar negeri, bahkan oleh orang-orang yang pendidikan nya sudah tinggi dan sedang menempuh jenjang PhD. Saya sengaja menggunakan pilihan kata “menduitkan” tersebut yang konotasi nya memang negatif, karena saya dan beberapa orang teman baru lainnya pernah merasakan pengalaman buruk tersebut. Ada jenis-jenis manusia yang mengambil kesempatan atas kedatangan mahasiswa baru dengan dalih “mambantu” dan “mencarikan” akomodasi padahal dari cara itu mereka mengambil keuntungan (yang sebesar-besarnya) dari orang-orang baru. Mereka biasanya mengontrak satu atau dua rumah atau bahkan lebih atas nama mereka dan dikontrakkan kembali ke mahasiswa baru.

Bila selama persiapan ataupun pembekalan di Indonesia kita diberitahukan bahwa salah satu alternatif menyewa rumah yang agak murah adalah dengan sistem sharing –membayar sama banyak oleh setiap orang yang menghuni rumah– ada manusia-manusia tertentu yang merasa sudah berpengalaman lama disana dan memberikan kesempatan untuk sharing kamar atau rumah nya ke mahasiswa-mahasiswa baru dan akhirnya dia sendiri sudah tidak perlu membayar rumah lagi, karena sudah tertutupi/ terlunasi oleh orang-orang yang menyewa kamar. Lebih parah lagi, ada yang mengaku-ngaku sudah menjadi “juragan kos” dengan kelakuan seperti itu.

Saya pikir, jauh merantau ke Australia sebagai orang Indonesia, unsur persaudaraan itu yang utama yang akan dijunjung oleh kawan-kawan Indonesia. Semestinya kita bisa menjalin hubungan persaudaraan baru yang sifatnya jangka panjang, tidak hanya sebatas perkenalan di Australia, tapi juga sampai kapanpun di masa depan setelah kembali ke Indonesia. Namun, tidak semua orang berprinsip seperti itu. Saya harus mengakui bahwasanya memang ada orang-orang yang berbakat bisnis, tapi sebaiknya jangan sampai menjadi bisnis yang kebablasan, sehingga mengukur urusan dengan orang lain itu hanya sebatas uang,  “bapak kos” dan “anak kos”. Menurut saya ini cukup sangat tidak etis. Saya ungkapkan secara tegas disini:

“Kalau mau jadi juragan kos, lebih baik di Indonesia saja. Bangun lah rumah dan gedung mu sendiri di Jakarta sana, misalnya, kau bisniskan lah itu rumah mu sendiri.”

Bagi saya bakat bisnis membuka kos-kosan di Australia sah-sah saja, asalkan memang sudah benar-benar bisa menggunakan cara-cara yang fair dengan memperhatikan nilai-nilai etika dan itikad baik serta mengutamakan kebaikan bersama.

Ada bangsa manusia seperti itu, rumah yang awalnya hanya tiga kamar bisa diakali menjadi empat kamar, demi memaksimalkan sumber pemasukan dollar mereka. Apa yang mereka lakukan? Yaitu dengan cara menjadikan ruang tamu sebagai ruang kamar. Sebenarnya hal seperti ini termasuk illegal, tidak diperbolehkan, dan merupakan tindakan eksploitasi. Sangat-sangat tidak beretika. Tindakan tersebut tidak dilakukan dengan pemikiran yang logis dan rasional. Rumah yang hanya berkapasitas tiga kamar dengan fasilitas satu kamar mandi dan satu toilet harus diisi oleh 8 orang di empat kamar. Itu adalah salah satu contoh perilaku tak beretika orang Indonesia di luar negeri, khususnya Australia.

Untuk kasus saya sendiri dan beberapa orang teman yang terjebak dalam kondisi seperti itu di rumah yang kami tempati, keadaan tersebut diatas diperparah lagi dengan sikap arogan si oknum dan istrinya yang menyewakan rumah kepada kami tersebut, yang merasa tau segalanya, menganggap kami ini adalah orang baru yang tak tau apa-apa dan berbicara seperti orang angkuh dengan nada yang tinggi, seolah-olah kalau berbicara itu selalu ingin bersitegang, pakai otot, dan menganggap dirinya paling benar. Mereka memperlakukan kami seolah anak SMA yang baru lulus sekolah dan baru saja memulai kehidupan perkuliahan dan belum tau apa-apa tentang luar negeri. Di beberapa waktu, si oknum dan istrinya tersebut juga suka mendikte, yang membuat kami tidak nyaman dan merasa terintimidasi. Dia lupa, kami ini adalah orang dewasa yang kurang lebih seumuran dengan mereka. Dia lupa dia bukan satu-satunya manusia Indonesia yang sedang hidup di Australia.

Walaupun si oknum tersebut sedang menempuh jenjang PhD, tapi dia masih tergolong muda (berusia sekitar 35 tahun, baru memiliki sepasang anak di bawah umur) dan berasal dari ibu kota (orang kota, yang kampungan) yang membuat kami paham betul bahwasanya “kepekaan sosial” nya sangat rendah, ditambah lagi dengan sikapnya tak lebih seperti anak ABG labil tak berwibawa tak bijaksana (dan masih banyak yang tak bisa dituliskan disini). Dia belum pantas menjadi seorang yang mengaku “bapak kos” atau membuat bisnis kos-kosan seperti itu (apalagi di negeri orang) karena kepribadiannya yang belum matang dan tak dapat mengayomi.

Kami dari awal memang sudah merasakan ada keganjilan yang membuat kami berpikir dan mencari tau apa sebenarnya motif dibalik oknum yang menawarkan sharing house itu kepada kami. Keadaan itu juga membuat kami mempertanyakan tentang sikap-sikap labil si oknum tersebut yang ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu kami menyadari bahwasanya kami hanya dimanfaatkan. Mereka pada satu kesempatan tanpa sengaja mengakui bahwasanya mereka ingin pindah ke rumah yang besar itu karena si istri bosan tinggal di unit (rumah yang kecil, yang menurut mereka sumpek) dan kebetulan mereka tau setiap awal semester pasti selalu banyak mahasiswa Indonesia yang akan memulai study di Melbourne. Di kesempatan lain, sikap mereka memang terang-terangan membisniskan kami. Ini kami ketahui dari percakapan mereka dengan rekan-rekan seangkatan atau kelompok nya.

Cukup lama kami menahan dan berusaha menjaga agar jangan terjadi perselisihan sesama kita anak negeri di perantauan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera pindah dari rumah itu dan bagi kami cukuplah satu semester pertama itu menerima pelajaran berharga itu.

Dari sini saya belajar, ternyata pendidikan tinggi tidak menjamin terbentuknya karakter manusia yang lebih baik dan bijaksana. Mengutip Pak Rocky Gerung:

“Gelar pendidikan tinggi hanyalah tanda orang pernah sekolah, tapi bukan tanda orang pernah berpikir”

Akhirnya, tentu tak semua orang Indonesia di Luar Negeri ataupun Australia khususnya Melbourne bersifat seperti yang saya ceritakan di atas. Ini hanya terjadi pada segelintir orang, namun tetap harus kita ketahui untuk dijadikan pelajaran melangkah ke depannya. Terlepas dari itu semua, banyak juga orang-orang baik lainnya yang saya temui yang memiliki jiwa sosial tinggi dan suka menolong, membantu kawan-kawan yang baru datang. Dengan ini saya ingin mengajak pembaca untuk menjadikan pengalaman ini bahan perenungan. Saya yakin pembaca adalah orang-orang berpendidikan tinggi dan termasuk dalam bagian generasi pembangun bangsa. Mari kita bangun dan jaga serta eratkan persaudaraan kebangsaan dengan benar-benar memelihara asas ketimuran yang kita banggakan itu. Mari kita ciptakan suasana damai dan nyaman serta saling menghargai dan menghormati.

5 thoughts on “Pengalaman sebagai pelajaran, menyewa rumah di Melbourne

      1. Tepat sekali, itu adalah “Mental Korup” yang dipupuk dan dipelihara, bukannya malah dibuang jauh dan diperbaiki.

        Jangan heran bila melihat oknum pejabat negeri yang latar belakang pendidikan nya tinggi bahkan sampai ke luar negeri, tapi ternyata menjadi sumber penyakit untuk negerinya sendiri. Mental dan sifat bobrok seperti itu (mungkin) sudah ditanam sejak dini.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s