Australia Awards Scholarship (AAS)

Wawancara AAS 2017 (Perjalanan Saya)

Halo kawan-kawan semua. Saya ucapkan selamat bagi Anda yang lulus tahapan administrasi beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Anda semua memang luar biasa. Saya mengerti bahwa tahapan tersebut memang sangat ketat, banyak sudah yang kawan-kawan lalui, perjuangkan dan korbankan. Tentunya perasaan sebagian kawan-kawan semakin nervous tak karuan untuk menjalani proses selanjutnya (wawancara), memikirkan apa yang harus dipersiapkan dan apalagi yang harus dihadapi. 

Nah, di artikel tentang pengalaman wawancara AAS 2017 saya ini pada dasarnya lanjutan dari tulisan saya sebelumnya di  Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

Namun, dibagian ini khusus pada subjudul “Wawancara AAS”. Selanjutnya, kebetulan field of study saya adalah Pendidikan (Master of Education), jadi tema wawancara ini akan mengarah pada pendidikan. Semoga ini tetap bisa memberikan gambaran bagi kawan-kawan dari bidang yang lain, seperti teknik, sains, kesehatan dll.

Selamat membaca dan berjuang!


Wawancara

Rasanya sudah banyak tips-tips wawancara beasiswa dan kerja di internet yang bisa dibaca. Tapi bagi saya sendiri, saya mengakui bahwa disinilah kemampuan berkomunikasi dan berdiplomasi teramat sangat berguna. Wawancara Beasiswa Australia Awards hanya berlangsung paling lama (maksimal) 20 menit, tidak akan lebih dari itu, itu sudah ketetapan tim penyeleksi dan terdapat dalam Policy Handbook.

Ditulisan sebelumnya saya katakan bahwasanya pewawancara berusaha menggali informasi yang terkadang seperti memojokkan saya. Selama wawancara itu dengan tenang dan wajah yang terkendali, selalu tersenyum dan terbuka menerima komentar atau pertanyaan-pertanyaan, saya menjawab dan mengkonfirmasi. Saya ditanyai beberapa poin yang memang pewawancara betul-betul menguji kematangan konsep dan persiapan saya secara akademis dan mental.

Pewawancara terdiri dari dua orang ahli (satu orang Australia dan satu orang Indonesia) dan wawancaranya full berbahasa Inggris, namun saya akan tuliskan dalam bahasa Indonesia saja. Kurang lebih ini beberapa pertanyaan dan keadaan yang masih saya ingat.

Pertanyaan hanya seputar apa yang saya tulis di aplikasi itu.

Pewawancara tak lagi menanyakan info pribadi saya karena mereka sudah memiliki data itu.

Mereka membuka sesi dengan menanyakan kabar dan dimana saya menginap selama proses wawancara Joint Selection Team (JST) AAS, informasi pribadi saya cukup complicated, alamat tetap di Jambi, lahir Tangerang, asli keturunan Minang dan sementara waktu bekerja di Jawa Timur. Selama proses tes IELTS dan wawancara itu saya sudah tinggal bersama Paman sekitar dua minggu di Tangerang.

Masuk ke pertanyaan:

The Australian Interviewer :

1. You are now working in the English Village, why did you say here that you are gonna be teaching at the Islamic University in Jambi? It is just like you have never studied in Universitas Indonesia but you wanna be working there. That is quite impossible.

Itu pertanyaan meremehkan banget ckckckck jangan baperan 😂

Intinya saya jelaskan bahwa wakil rektor saya di UIN Jambi lah yang merekomendasikan saya untuk AAS ini, dan beliau juga menjamin saya untuk menjadi dosen di kampus tersebut nantinya setelah lulus Master. Untuk diketahui pula kampus ini baru saja bertransformasi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) dan sedang dalam pengambangan dan pembangunan besar-besaran baik itu infrastruktur maupun jurusan dan fakultas baru sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga pengajar ahli, maka saya adalah salah satu kader nya.

Uhm, so what majors and faculties are they developing now?

Saya jawab “there are several majors and faculties have been being developed now such as Economic and governmental sciences.

Oh, what about education?
Lah tuh kan saya baru sadar saya kan dari Fakultas Pendidikan kenapa malah jelasin fakultas lain ckckckck jawaban saya sebelumnya meleset (yah belum lengkap lah). Tapi saya langsung melanjutkan “Yes they do develop some new majors for the Education Faculty, such as Early childhood education and many other social sciences for education. Uh, nyaris 😂

2. Uhm, yeah I see here your vice rector gave you the recommendation, you know, I couldn’t even read his hand writing, that is too difficult to read.

Wkwkwkwkwwk dalam hati saya “yah sama Pak. Saya juga engga bisa baca tulisan tangan wakil rektor saya itu :’) tulisan halus kasar tegak bersambung sang Profesor. Saya masih ingat, waktu itu saya datangi beliau untuk minta surat rekomendasi dengan membawa laptop, tapi ternyata beliau suruh saya supaya form rekomendasi itu diprint, akhirnya saya keluar ruang untuk print di luar lingkungan kampus di siang hari panas terik itu.

Sekembalinya di ruang itu, beliau langsung menulis dan menandatangi form itu dan mengembalikan ke saya. Dalam hati saya, “Ya Allah, Pak. Bapak serius mau rekomedasikan saya beasiswa AAS. Rekomendasi bapak isinya cuma dua kalimat 😥 saya pun tak bisa baca apa yang bapak tulis ini, apa tim penguji bakal bisa baca nanti. Tapi, saya yakin Pak. Doa dan dukungan bapak insyaAllah memenangkan saya 😂😂😂

Akhirnya saya sampaikan juga ke penguji sesuai pesan Pak Warek saya itu kalau saya harus bilang “Wakil rektor saya itu alumni AAS, beliau punya relasi internasional kuat, Australia, Amerika, Timur Tengah hingga Eropa dan beliau siap menjamin saya untuk mengajar sebagai dosen di UIN Jambi.

3. Uhm, so you are a Language Ambassador. I was an ambassador too bla bla bla

Mereka, dua orang penguji itu, bercakap cakap tentang kalo pewawancara Australia yang masih muda ini pernah jadi Duta juga dulunya, hahaha saya cuma senyum nyengir tak menjawab. Karena itu bukan pertanyaan.

4. What have you done in order to prepare your study?

Mengamati fenomena sosial di lingkungan di Jambi khususnya almamater saya sendiri UIN STS Jambi dan mempelajari inovasi dan pengembangan pendidikan seperti apa yang yang dibutuhkan. Mencari kampus yang tepat yang bisa menfasilitasi dan mengakomodir kebutuhan tersebut, jurusan apa yang harus di ambil dan mata kuliah apa saja yang saya butuhkan selama dua tahun study. Si pewawancara langsung memotong dan bertanya, “oh, jadi mata kuliah apa aja itu?”

Saya memulai dengan menjelaskan pembagian Core Units & Elective Units. Setelah saya sebutkan 3 mata kuliah wajib (Core subjects/ units) yang harus saya ambil, dan (kebetulan) mata kuliah keempat ini “School Effectiveness & Improvement” yang merupakan elective subject. Nah, pada saat saya menyebutkan nama mata kuliah yang ke-empat itu (School Effectiveness & Improvement), saya langsung dipotong oleh penguji wanita (dari Indonesia) dan beliau bertanya, “kenapa kamu mau ambil mata kuliah itu? Apa penting nya bagimu?”

Saya jawab: “mata kuliah ini penting bagi saya karena selama ini dan juga kedepannya saya telah dan akan terus berkomunikasi dengan para guru maupun kepala-kepala sekolah guna membicarakan tentang peningkatan mutu pendidikan sekolah dan segala aspek yang berkaitan dengannya, sehingga pengetahuan di bidang ini diharapkan akan membantu saya dalam memberikan kontribusi dan pemikiran yang juga akan sangat bermanfaat bagi para guru di sekolah dalam membantu menyelesaikan permasalahan kependidikan, khususnya di Provinsi Jambi.”

Mereka langsung mengangguk dan menghentikan skip ke pertanyaan berikutnya. Alhamdulillah, karena waktu itu saya juga belum terlalu hafal 8 mata kuliah yang ingin diambil untuk 4 semester (walaupun saya sudah berusaha menghafal). Lha kuliah nya aja belum, gimana mau ingat nama-nama mata kuliah nya. Jangankan itu, nama mata kuliah S1 yang pernah dipelajari dulu pun sudah banyak yang lupa. Eh, haha.

5. You said that you have ever been to the USA for a Leadership program. So, did you find any particular problem and how did you solve it?

6. On your application you said that you wanna be a lecturer, but you also wrote you wanna be a policy maker. Actually, what do you wanna be? It would seem to me that you do not have any focus. You wanna be like this, like this and like this.

ups, saya cuma bisa senyum menjaga image tetap menahan hati karena ekspresi sang pewawancara itu seperti meremehkan saya hahahaha namanya juga nguji. Sambil sedikit nyengir dan ingin menjawab. Tapi belum saya berbicara si pewawancara sudah menyambung lagi komentarnya.

You know, every time I ask candidates who are from the educational background “why do you wanna study in Australia?” they will simply answer “I wanna be a better teacher”. Simple as that. You know, a lecturer and a policy maker are two different jobs that you can not do at the same time and that would be impossible and of course because those are two different sectors.

ckckckckckck… lagi-lagi saya cuma bisa nyengir, kalem dan akhirnya mendapatkan kesempatan jelaskan.

Saya sempat keceplosan membuka jawaban dengan bilang “Yes, it is a kinda ambitious planning”.

Lalu si pewawancara langsung merespon, “Yes, you are too ambitious!”

Walah, gawat ini. Dalam hati saya sudah mulai gundah, tapi saya berusaha mengedalikan diri dan keadaan.

Saya sampaikan intinya: tentu semua sektor itu saling berhubungan, sama-sama di bidang pendidikan. Saya menjadi dosen agar saya bisa menginspirasi dan berbagi langsung di dalam kelas kepada mahasiswa saya nantinya. Sementara itu bagaimana bisa saya mau menjadi bagian dari policy maker di kementerian atau dinas pendidikan, jawabannya ialah karena selama ini saya sudah menjalin kerja sama dengan intansi tersebut memberikan training dan seminar kepada guru-guru mengenai metode pembelajaran tepatnya dimulai sejak saya lulus dari program-program pembibitan pengajar muda Camp EPIC RELO US Embassy Jakarta. Jadi, bukan tidak mungkin bagi saya untuk masuk ke dalam lingkaran itu dan saya yakin kesempatan akan semakin terbuka lebar ke depannya.

7. Uhm, I see here that you put a research plan. Actually, we don’t really recommend Master candidates of Australia Awards to do research. Taking coursework study is enough.

Yes, I would like to do the minor thesis because I am planning to continue to a PhD program later. As I am gonna be a lecture, of course I do need it. Besides, I hope my future research which will take place in my home university, will contribute to the development of my university programs.

Program yang saya ambil ialah Master by coursework (with minor thesis).

Why do you choose that topic?

Saya jelaskan alasannya.

8. Pewawancara Indo seingat saya hanya menanyakan satu poin konfirmasi. You said here (on the application) that you wanna be back to your current institution (Kursusan di Kampung Inggris) but you also said you wanna be a lecturer in Jambi.

Engga mungkin kan saya jawab, “Maaf bu, eh oh eh ah itu waktu itu saya khilaf, saya akui salah tulis” ckckckckcckkck. Jangaaan. Jangan begitu.

Jawablah dengan tenang dan diplomatis. “Oh itu, ya, saya tuliskan begitu karena selama ini saya sudah sering bolak balik Jambi-Kampung Inggris untuk mengajar, dan jarak bukan halangan bagi saya dan saya yakin nanti kedepannya saya tetap akan bisa berkontribusi di lembaga itu dengan berbagi melalui seminar dan training bagi para pengajarnya, dan menjadi bagian dari tim akademik melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum.

9. Alright, that is all our interview and do you have any question?

Nah, memang dari awal sudah disampaikan oleh ketua tim seleksi bahwasanya kandidat akan diberikan waktu 2 menit untuk menyampaikan sesuatu atau bertanya di akhir sesi wawancara yang 20 menit itu.

 

Baca juga: Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

3 thoughts on “Wawancara AAS 2017 (Perjalanan Saya)

    1. Halo, Mbak Septhy.

      Wah, terima kasih atas pertanyaanya. Pertanyaan ini benar-benar mengingatkan saya satu momen penting ketika menyebutkan mata kuliah yang ingin saya ambil itu. Saya memulai dengan menjelaskan pembagian Core Units & Elective Units. Setelah saya sebutkan 3 mata kuliah wajib (Core subjects/ units) yang harus saya ambil, dan kebetulan mata kuliah keempat ini “School Effectiveness & Improvement” yang merupakan elective subject. Nah, pada saat saya menyebutkan nama mata kuliah yang ke-empat itu (School Effectiveness & Improvement), saya langsung dipotong oleh penguji wanita (dari Indonesia) dan beliau bertanya, “kenapa kamu mau ambil mata kuliah itu? Apa penting nya bagimu?”

      Saya jawab: “mata kuliah ini penting bagi saya karena selama ini dan juga kedepannya saya telah dan akan terus berkomunikasi dengan para guru maupun kepala-kepala sekolah guna membicarakan tentang peningkatan mutu pendidikan sekolah dan segala aspek yang berkaitan dengannya, sehingga pengetahuan di bidang ini diharapkan akan membantu saya dalam memberikan kontribusi dan pemikiran yang juga akan sangat bermanfaat bagi para guru di sekolah dalam membantu menyelesaikan permasalahan kependidikan, khususnya di Provinsi Jambi.”

      Ya, begitulah jawaban saya.

      Pertanyaan penguji selanjutnya ialah: “Berapa sks mata kuliah yang harus kamu selesaikan?”

      Saya jawab dengan menyebutkan keseluruhan/ total jumlah sks selama 4 semester dan jumlah sks per mata kuliah, paling tinggi 25 sementara terendah ialah 12.5.

      Mengenai pertanyaan Mbak, saya tidak jelaskan terperinci masing-masing mata kuliah. Namun, saya anjurkan agar kita tetap harus punya persiapan apabila memang diminta menjelaskan/ merincikan satu atau dua mata kuliah yang ingin diambil.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s