Australia Awards Scholarship (AAS) · Scholarship Information

Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

Banyak diantara teman-teman yang sering bertanya pada saya tentang pengalaman lulus beasiswa Australia Awards, apalagi ini pertama kali saya mencoba melamar beasiswa. Saya hanya bisa jawab, “Alhamdulillah, sudah nasib dan takdir”. Kalau ditanya soal tips, saya yakin ada banyak tulisan mengenai tips-tips lulus beasiswa yang kawan-kawan bisa baca dan seminar-seminar yang bisa diikuti, dan saya bukanlah ahli nya untuk itu karena pengalaman saya pribadi pun tak banyak. Terlepas dari itu semua mungkin ada beberapa poin yang saya alami dan jalani dalam hidup yang bisa diceritakan.

Baca juga: Wawancara AAS 2017 (Perjalanan Saya)

Pada dasarnya, saya percaya pada konsep “going extra miles”. Kalau bisa melakukan hal yang berbeda, kenapa harus menjadi yang biasa-biasa. Berusahalah di atas rata-rata, setidaknya (jauh) di atas standar cara hidup saya pribadi yang biasanya, tak perlu di atas standar orang lain. Jangan lakukan persiapan yang pas-pasan. Cobalah untuk melakukan persiapan ekstra. Lagi dan lagi, saya tak pernah merasa bersaing dengan orang lain, yang saya lakukan adalah menaklukan sisi lain dari diri saya sendiri.

Doa (Ibadah)

Mungkin bagian ini merupakan hal yang biasa bahkan klasik karena pada umumnya kita semua telah lakukan bahkan kawan-kawan pembaca lebih luar biasa ibadahnya dari pada saya, jadi saya tidak ingin berbicara soal ini terlalu luas. Namun, saya sangat percaya pada doa, dan apa yang saya lakukan dengan poin ini?

Selama ini, ketika saya memiliki satu cita-cita besar, saya tak pernah sungkan untuk menyampaikannya pada pada orang lain, tidak saya tahan sendiri, setidaknya memberitahukan saja mengenai niat itu, khususnya kedua orang tua dan pasangan. Saya jelaskan pada Ibu saya tentang target hidup saya dan saya minta doa restu beliau atas langkah yang akan saya ambil karena saya percaya doa Ibu itu mustajab.

Selanjutnya, sambil saya cerita disana-sini ketika ada momen bertemu teman nongkrong maupun teman lama tentang rencana hidup saya itu, saya juga dengan rendah hati meminta doa dukungan mereka untuk kelancaran dan kesuksesan usaha saya. Begitu juga dengan sanak saudara kakak, adik, sepupu, paman, bibi dan lainnya. Jadi, saya kumpulkan doa dari mereka semua dan saya juga percaya dengan nasihat ini: “Mintalah doa kepada siapapun yang kau temui, karena kau tidak pernah tau dari mulut siapa doa akan dikabulkan”. Ditambah lagi momen-momen selama saya mengajar, kepada kawan-kawan, siswa di kelas saya sejak lama saya sudah selalu dengan rendah hati meminta ketulusan mereka mendoakan saya dan saya pun juga begitu, saling mendoakan.

Ya, bagi yang muslim, saya yakin kawan-kawan pasti sudah rutin melakukan segala amalan sunnah (puasa, dhuha, tahajud, sedekah, dll., tidak hanya yang wajib saja).

Rekam jejak (Track records)

Ini mencakup dua hal, pengalaman kerja maupun sosial (volunteer). Di tahun 2017, seperti yang disampaikan oleh ketua tim seleksi beasiswa Australia, pembagian kuota penerima AAS tahun itu ialah 80% PNS dan sisa 20% nya dari swasta (termasuk saya yang yah kurang lebih masih fresh graduate luntang lantung tak punya pekerjaan tetap lah). Nah, posisinya saat itu saya harus bisa masuk ke dalam 20% itu.

Walaupun selama ini saya hanya mengajar di kursusan biasa dan belum pernah mengajar di Sekolah Negeri (SD, SMP, SMA, Universitas), tapi saya dengan yakin memasukkan pengalaman mengajar saya itu kedalam aplikasi di kolom pengalaman kerja, jadi terhitung 2012-2017. Lumayan kan, secara profesional saya sudah mengajar selama lima tahun, sejak di semester 5 kuliah. Selain itu, walaupun tidak aktif di organisasi kampus, sejak zaman kuliah itu saya memang sudah menyibukkan diri di kegiatan luar kampus, relawan dan kepemudaan. Nah, bagi kamu yang masih berkuliah, dari sekarang sadarilah poin itu dan mulailah untuk bergerak. Selain bermanfaat bagi masyarakat, pengalaman itu juga bermanfaat dan menjadi nilai jual nantinya dalam kehidupan berkarir.

Prestasi akademik, kerja dan sosial

Saya bukan termasuk yang nomor satu dalam hal nilai IPK kampus, tapi setidaknya IPK saya sudah cukup tinggi dan jauh dari standar yang ditetapkan oleh AAS yang hanya 2.9. Saya memang tidak terhitung cum laude dalam wisuda karena saya pernah cuti kuliah 2 semester, tapi IPK saya sudah di atas 3.8an. Ups, tenang. Masih ada yang 3.9 bahkan 4 kok sewaktu saya lulus itu, rekan satu angkatan bahkan junior saya. Pertahankan nilai masing-masing mata kuliah itu sebaik mungkin.

Di bidang pekerjaan pun juga seperti itu, sebaiknya kawan-kawan tak hanya pasrah menjadi pegawai atau bawahan biasa saja melainkan juga mampu menjadi seorang visioner yang memiliki gagasan dan ide untuk pembaharuan dan kebaikan ke depan dimana pun bekerja. Tentu saja, dedikasi dan integritas menjadi bagian penting dan utama.

IELTS

Sebenarnya poin ini harus saya tempatkan setelah “doa”. Karena ini juga penentu bagi kita yang ingin kuliah ke luar negeri.

Dua bulan setelah wisuda S1, Oktober 2015, saya mulai fokus belajar IELTS, karena walau bagaimanapun, saya butuh IELTS untuk melamar beasiswa apapun untuk ke Luar Negeri. Pikiran saya saat itu ialah biarlah saya sedikit terlambat melamar beasiswa dari yang lain, yang terpenting adalah begitu melamar beasiswa saya sudah memiliki skor IELTS yang cukup dan siap untuk menang. Ketika saya sudah memiliki IELTS dengan skor bahkan lebih dari yang disyaratkan, saya akan semakin percaya diri untuk melamar beasiswa dan kampus mana saja dan ini akan menjadi salah satu poin kuat nilai jual bagi saya. Saya baru mendapatkan skor IELTS setahun kemudian, di akhir tahun 2016 dan akhirnya baru berkesempatan melamar beasiswa di awal tahun 2017. saya buang rasa minder, saya singkirkan rasa gundah, saya yakin Allah Maha Mengetahui batas perjuangan saya dan kapan saya layak untuk diberikan kemenangan, Alhamdulillah.


Aplikasi

Selain melengkapi dan mengisi data dengan teliti, saya ulangi lagi, sebelumnya sudah pernah saya tuliskan di artikel yang lalu, bahwa AAS tidak memiliki persyaratan menulis Motivation Letter. Tapi, ada pertanyaan dalam aplikasi yang berkaitan dengan itu.

1. How will this scholarship contribute to the organisation’s human resource development needs?

2. How did you choose your proposed study?

3. How will the proposed study contribute to your career?

4. give up to 3 possible examples how you intend to use the knowledge, skills, connections

5. list any possible constraints you think may prevent you.

Nah, ketika kawan-kawan pembaca nantinya sudah mulai apply dan membuka pangkalan data online system untuk pendaftaran AAS (OASIS), barulah akan menemukan pertanyaan-pertanyaan di atas. Masing-masing pertanyaan diberikan batas maksimal jawaban 2000 characters (huruf) saja.

Buka informasi khusus program Master dan Ph.D AAS di bagian Long Term Awards yang ada di web Australia Awards Indonesia. Download juga informasi yang dibutuhkan termasuk form rekomandasi dg judul “Academic Referee Report Form” di kolom Download Australia Awards Indonesia.

Saya mulai mengisi aplikasi itu dari tanggal 23 Maret hingga 25 April dan submit pada 27 April 2017. Selama pengisian aplikasi yang berminggu-minggu itu, beberapa kali datang ke kampus menemui dosen ketua jurusan saya saat itu dan dua orang dosen pembimbing skripsi saya dulu. Selain itu, beberapa hari sekali, saya aktif menelepon seorang teman saya dari camp EPIC yang saya percaya (awardee AAS lebih dulu dari saya) untuk minta bimbingan selama mengisi data-data.

Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

Wawancara

Rasanya sudah banyak tips-tips wawancara beasiswa dan kerja di internet yang bisa dibaca. Tapi bagi saya sendiri, saya mengakui bahwa disinilah kemampuan berkomunikasi dan berdiplomasi teramat sangat berguna. Wawancara Beasiswa Australia Awards hanya berlangsung paling lama (maksimal) 20 menit, tidak akan lebih dari itu, itu sudah ketetapan tim penyeleksi dan terdapat dalam Policy Handbook.

Baca detil proses wawancara AAS saya selengkapnya disini: Wawancara AAS 2017 (Perjalanan Saya)

11 thoughts on “Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

  1. setelah saya berselancar di internet, saya bersyukur bisa baca tips dan pengalaman mas mengikuti seleksi AAS. saya Santi dari Maluku Barat Daya, saya sekarang juga sedang mengikuti proses seleksinya untuk AAS intake 2019. boleh tanya, kalau sudah terlanjur submit dengan informasi yang kurang komprehensif dalam menjawab pertanyaan2 di aplikasi terus ditambahkan pada saat wawancara kira2 boleh ga ya? ada saran? terima kasih sebelumnya.

    Like

    1. Halo Saudari Santi,

      Syukurlah, saya senang bisa berbagi cerita.

      Mengenai poin itu, saya sangat mendukung, justru wawancara itu adalah momen memperjelas dan menyampaikan semua hal, baik itu yg belum tertuliskan diaplikasi ataupun ide-ide yang muncul dipikiran. Jadi, di sesi wawancara itu, memang harus betul-betul optimis dan meyakinkan.

      Semangat sukses!

      Like

  2. assalamualaikum.. saya ingin bertanya, berapa kali kita boleh daftar AAS? apakah ada pembatasan?
    misal untuk LPDP adalah 3 kali

    Like

  3. Assalamualaikum Wr. Wb
    Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih atas informasi yang sangat berharga ini kaa ^^
    Oh iya saya mau bertanya, apakah ada syarat khusus sebelum apply beasiswa aas? Misalnya harus bekerja dulu minimal berapa tahun. Atau kah dari yang lulus S1 langsung bisa apply untuk S2 di aussie dengan beasiswa aas? Dan juga saya belum punya pengalaman mengajar di suatu tempat, namun saya membuka les kecil2an untuk membantu teman saya ataupun adik tingkat dalam belajar mata kuliah tertentu. Apakah tanpa pengalaman bekerja akan sulit meng-apply beasiswa ini?
    Jujur saya tidak memiliki banyak pengalaman di luar kampus karena disabilitas yang saya miliki 😦

    Like

    1. Waalaikum salam. Halo Zerlinda,

      Saya tidak mengetahui pasti kriteria AAS, pastinya hanya internal tim penguji AAS yang tahu itu.

      Namun, bila mengamati rekan-rekan awardee dan alumni, ada beberapa kriteria yang kurang lebih kami semua (yang lulus) punya kesamaan, salah satu atau lebih dari antara beberapa poin di bawah ini:

      1. Punya pengalaman kerja (Sejak kuliah atau setelah lulus kuliah).

      2. Punya pengalaman orginasasi atau kegiatan sosial, riset maupun lainnya.

      3. Punya visi dan misi yang jelas/ rencana target masa depan baik itu di bidang pekerjaan, peningkatan karir ataupun pengabdian sosial (bila memang belum punya pengalaman kerja sebelumnya, poin ini juga sangat penting)

      4. Rekomendasi/ afiliasi (Poin ini juga rasanya tak kalah penting). Saya diberi surat rekomendasi oleh wakil rektor yang memang alumni program ini, dan atasan yang memang sebelumnya pernah merekomendasikan rekan kerja yang lulus AAS juga.

      5. Alumni/ awardee yang masuk dalam kriteria prioritas (Yang berasal dari daerah 3T/ Geographic Focused Area maupun disabilitas). Poin ini juga sangat penting bagi kawan-kawan yang merasa punya kriteria tersebut.

      Tambahan lainnya adalah: ada banyak awardee yang fresh graduate/ baru lulus S1 langsung diterima AAS. Menurut saya, mereka memiliki salah satu ataupun beberapa dari kriteria di atas ataupun nilai tambah lainnya.

      Mungkin poin di atas sedikit banyaknya bisa membantu menjelaskan.

      Sukses dan semangat!

      Like

  4. Assalamualaikum kak, terima kasih atas semua informasinyq sangat membantu. Saya ingin bertanya kak, kenapa stlh dnyatakan llus administrasi diharuskan tes IELTS lagi? Bukanlah di awal pndaftaran kita harus memasukkan bukti kemampuan bhsa inggris baik Toefl maupun ielts. Terima kasih kak wassalam

    Like

    1. Waalaikumsalam, halo Mita. Saya kurang tau persis alasan untuk ini, tapi asumsi saya tes IELTS ini juga digunakan sebagai referensi/ landasan untuk menentukan berapa lama durasi Pre-Departure Training (PDT) BAGI awardee yang dinyatakan lulus.

      Sebenarnya, kandidat yang memiliki IELTS berusia dalam kurun waktu tiga bulan sebelum wawancara, diperbolehkan untuk tidak ikut tes IELTS yang diselenggarakan oleh AAS.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s