Australia Awards Scholarship (AAS) · Scholarship Information

Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

Banyak diantara teman-teman yang sering bertanya pada saya tentang pengalaman lulus beasiswa Australia Awards, apalagi ini pertama kali saya mencoba melamar beasiswa. Saya hanya bisa jawab, “Alhamdulillah, sudah nasib dan takdir”. Kalau ditanya soal tips, saya yakin ada banyak tulisan mengenai tips-tips lulus beasiswa yang kawan-kawan bisa baca dan seminar-seminar yang bisa diikuti, dan saya bukanlah ahli nya untuk itu karena pengalaman saya pribadi pun tak banyak. Terlepas dari itu semua mungkin ada beberapa poin yang saya alami dan jalani dalam hidup yang bisa diceritakan.

Pada dasarnya, saya percaya pada konsep “going extra miles”. Kalau bisa melakukan hal yang berbeda, kenapa harus menjadi yang biasa-biasa. Berusahalah di atas rata-rata, setidaknya (jauh) di atas standar cara hidup saya pribadi yang biasanya, tak perlu di atas standar orang lain. Jangan lakukan persiapan yang pas-pasan. Cobalah untuk melakukan persiapan ekstra. Lagi dan lagi, saya tak pernah merasa bersaing dengan orang lain, yang saya lakukan adalah menaklukan sisi lain dari diri saya sendiri.

Doa (Ibadah)

Mungkin bagian ini merupakan hal yang biasa bahkan klasik karena pada umumnya kita semua telah lakukan bahkan kawan-kawan pembaca lebih luar biasa ibadahnya dari pada saya, jadi saya tidak ingin berbicara soal ini terlalu luas. Namun, saya sangat percaya pada doa, dan apa yang saya lakukan dengan poin ini?

Selama ini, ketika saya memiliki satu cita-cita besar, saya tak pernah sungkan untuk menyampaikannya pada pada orang lain, tidak saya tahan sendiri, setidaknya memberitahukan saja mengenai niat itu, khususnya kedua orang tua dan pasangan. Saya jelaskan pada Ibu saya tentang target hidup saya dan saya minta doa restu beliau atas langkah yang akan saya ambil karena saya percaya doa Ibu itu mustajab.

Selanjutnya, sambil saya cerita disana-sini ketika ada momen bertemu teman nongkrong maupun teman lama tentang rencana hidup saya itu, saya juga dengan rendah hati meminta doa dukungan mereka untuk kelancaran dan kesuksesan usaha saya. Begitu juga dengan sanak saudara kakak, adik, sepupu, paman, bibi dan lainnya. Jadi, saya kumpulkan doa dari mereka semua dan saya juga percaya dengan nasihat ini: “Mintalah doa kepada siapapun yang kau temui, karena kau tidak pernah tau dari mulut siapa doa akan dikabulkan”. Ditambah lagi momen-momen selama saya mengajar, kepada kawan-kawan, siswa di kelas saya sejak lama saya sudah selalu dengan rendah hati meminta ketulusan mereka mendoakan saya dan saya pun juga begitu, saling mendoakan.

Ya, bagi yang muslim, saya yakin kawan-kawan pasti sudah rutin melakukan segala amalan sunnah (puasa, dhuha, tahajud, sedekah, dll., tidak hanya yang wajib saja).

Rekam jejak (Track records)

Ini mencakup dua hal, pengalaman kerja maupun sosial (volunteer). Di tahun 2017, seperti yang disampaikan oleh ketua tim seleksi beasiswa Australia, pembagian kuota penerima AAS tahun itu ialah 80% PNS dan sisa 20% nya dari swasta (termasuk saya yang yah kurang lebih masih fresh graduate luntang lantung tak punya pekerjaan tetap lah). Nah, posisinya saat itu saya harus bisa masuk ke dalam 20% itu.

Walaupun selama ini saya hanya mengajar di kursusan biasa dan belum pernah mengajar di Sekolah Negeri (SD, SMP, SMA, Universitas), tapi saya dengan yakin memasukkan pengalaman mengajar saya itu kedalam aplikasi di kolom pengalaman kerja, jadi terhitung 2012-2017. Lumayan kan, secara profesional saya sudah mengajar selama lima tahun, sejak di semester 5 kuliah. Selain itu, walaupun tidak aktif di organisasi kampus, sejak zaman kuliah itu saya memang sudah menyibukkan diri di kegiatan luar kampus, relawan dan kepemudaan. Nah, bagi kamu yang masih berkuliah, dari sekarang sadarilah poin itu dan mulailah untuk bergerak. Selain bermanfaat bagi masyarakat, pengalaman itu juga bermanfaat dan menjadi nilai jual nantinya dalam kehidupan berkarir.

Prestasi akademik, kerja dan sosial

Saya bukan termasuk yang nomor satu dalam hal nilai IPK kampus, tapi setidaknya IPK saya sudah cukup tinggi dan jauh dari standar yang ditetapkan oleh AAS yang hanya 2.9. Saya memang tidak terhitung cum laude dalam wisuda karena saya pernah cuti kuliah 2 semester, tapi IPK saya sudah di atas 3.8an. Ups, tenang. Masih ada yang 3.9 bahkan 4 kok sewaktu saya lulus itu, rekan satu angkatan bahkan junior saya. Pertahankan nilai masing-masing mata kuliah itu sebaik mungkin.

Di bidang pekerjaan pun juga seperti itu, sebaiknya kawan-kawan tak hanya pasrah menjadi pegawai atau bawahan biasa saja melainkan juga mampu menjadi seorang visioner yang memiliki gagasan dan ide untuk pembaharuan dan kebaikan ke depan dimana pun bekerja. Tentu saja, dedikasi dan integritas menjadi bagian penting dan utama.

Aplikasi

Selain melengkapi dan mengisi data dengan teliti, saya ulangi lagi, sebelumnya sudah pernah saya tuliskan di artikel yang lalu, bahwa AAS tidak memiliki persyaratan menulis Motivation Letter. Tapi, ada pertanyaan dalam aplikasi yang berkaitan dengan itu.

1. How will this scholarship contribute to the organisation’s human resource development needs?

2. How did you choose your proposed study?

3. How will the proposed study contribute to your career?

4. give up to 3 possible examples how you intend to use the knowledge, skills, connections

5. list any possible constraints you think may prevent you.

Nah, ketika kawan-kawan pembaca nantinya sudah mulai apply dan membuka pangkalan data online system untuk pendaftaran AAS (OASIS), barulah akan menemukan pertanyaan-pertanyaan di atas. Masing-masing pertanyaan diberikan batas maksimal jawaban 2000 characters (huruf) saja.

Buka informasi khusus program Master dan Ph.D AAS di bagian Long Term Awards yang ada di web Australia Awards Indonesia. Download juga informasi yang dibutuhkan termasuk form rekomandasi dg judul “Academic Referee Report Form” di kolom Download Australia Awards Indonesia.

Saya mulai mengisi aplikasi itu dari tanggal 23 Maret hingga 25 April dan submit pada 27 April 2017. Selama pengisian aplikasi yang berminggu-minggu itu, beberapa kali datang ke kampus menemui dosen ketua jurusan saya saat itu dan dua orang dosen pembimbing skripsi saya dulu. Selain itu, beberapa hari sekali, saya aktif menelepon seorang teman saya dari camp EPIC yang saya percaya (awardee AAS lebih dulu dari saya) untuk minta bimbingan selama mengisi data-data.

Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

IELTS

Dua bulan setelah wisuda S1, Oktober 2015, saya mulai fokus belajar IELTS, karena walau bagaimanapun, saya butuh IELTS untuk melamar beasiswa apapun untuk ke Luar Negeri. Pikiran saya saat itu ialah biarlah saya sedikit terlambat melamar beasiswa dari yang lain, yang terpenting adalah begitu melamar beasiswa saya sudah memiliki skor IELTS yang cukup dan siap untuk menang. Ketika saya sudah memiliki IELTS dengan skor bahkan lebih dari yang disyaratkan, saya akan semakin percaya diri untuk melamar beasiswa dan kampus mana saja dan ini akan menjadi salah satu poin kuat nilai jual bagi saya. Saya baru mendapatkan skor IELTS setahun kemudian, di akhir tahun 2016 dan akhirnya baru berkesempatan melamar beasiswa di awal tahun 2017. saya buang rasa minder, saya singkirkan rasa gundah, saya yakin Allah Maha Mengetahui batas perjuangan saya dan kapan saya layak untuk diberikan kemenangan, Alhamdulillah.

Wawancara

Rasanya sudah banyak tips-tips wawancara beasiswa dan kerja di internet yang bisa dibaca. Tapi bagi saya sendiri, saya mengakui bahwa disinilah kemampuan berkomunikasi dan berdiplomasi teramat sangat berguna. Wawancara Beasiswa Australia Awards hanya berlangsung paling lama (maksimal) 20 menit, tidak akan lebih dari itu, itu sudah ketetapan tim penyeleksi dan terdapat dalam Policy Handbook.

Ditulisan sebelumnya saya katakan bahwasanya pewawancara berusaha menggali informasi yang terkadang seperti memojokkan saya. Selama wawancara itu dengan tenang dan wajah yang terkendali, selalu tersenyum dan terbuka menerima komentar atau pertanyaan-pertanyaan, saya menjawab dan mengkonfirmasi. Saya ditanyai beberapa poin yang memang pewawancara betul-betul menguji kematangan konsep dan persiapan saya secara akademis dan mental.

Pewawancara terdiri dari dua orang ahli (satu orang Australia dan satu orang Indonesia) dan wawancaranya full berbahasa Inggris, namun saya akan tuliskan dalam bahasa Indonesia saja. Kurang lebih ini beberapa pertanyaan dan keadaan yang masih saya ingat.

Pertanyaan hanya seputar apa yang saya tulis di aplikasi itu.

Pewawancara tak lagi menanyakan info pribadi saya karena mereka sudah memiliki data itu.

Mereka membuka sesi dengan menanyakan kabar dan dimana saya menginap selama proses wawancara Joint Selection Team (JST) AAS, informasi pribadi saya cukup complicated, alamat tetap di Jambi, lahir Tangerang, asli keturunan Minang dan sementara waktu bekerja di Jawa Timur. Selama proses tes IELTS dan wawancara itu saya sudah tinggal bersama Paman sekitar dua minggu di Tangerang.

Masuk ke pertanyaan:

The Australian Interviewee :

1. You are now working in the English Village, why did you say here that you are gonna be teaching at the Islamic University in Jambi? It is just like you have never studied in Universitas Indonesia but you wanna be working there. That is quite impossible.

Itu pertanyaan meremehkan banget ckckckck jangan baperan 😂

Intinya saya jelaskan bahwa wakil rektor saya di UIN Jambi lah yang merekomendasikan saya untuk AAS ini, dan beliau juga menjamin saya untuk menjadi dosen di kampus tersebut nantinya setelah lulus Master. Untuk diketahui pula kampus ini baru saja bertransformasi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) dan sedang dalam pengambangan dan pembangunan besar-besaran baik itu infrastruktur maupun jurusan dan fakultas baru sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga pengajar ahli, maka saya adalah salah satu kader nya.

Uhm, so what majors and faculties are they developing now?

Saya jawab “there are several majors and faculties have been being developed now such as Economic and governmental sciences.

Oh, what about education?
Lah tuh kan saya baru sadar saya kan dari Fakultas Pendidikan kenapa malah jelasin fakultas lain ckckckck jawaban saya sebelumnya meleset (yah belum lengkap lah). Tapi saya langsung melanjutkan “Yes they do develop some new majors for the Education Faculty, such as Early childhood education and many other social sciences for education. Uh, nyaris 😂

2. Uhm, yeah I see here your vice rector gave you the recommendation, you know, I couldn’t even read his hand writing, that is too difficult to read.

Wkwkwkwkwwk dalam hati saya “yah sama Pak. Saya juga engga bisa baca tulisan tangan wakil rektor saya itu :’) tulisan halus kasar tegak bersambung sang Profesor. Saya masih ingat, waktu itu saya datangi beliau untuk minta surat rekomendasi dengan membawa laptop, tapi ternyata beliau suruh saya supaya form rekomendasi itu diprint, akhirnya saya keluar ruang untuk print di luar lingkungan kampus di siang hari panas terik itu.

Sekembalinya di ruang itu, beliau langsung menulis dan menandatangi form itu dan mengembalikan ke saya. Dalam hati saya, “Ya Allah, Pak. Bapak serius mau rekomedasikan saya beasiswa AAS. Rekomendasi bapak isinya cuma dua kalimat 😥 saya pun tak bisa baca apa yang bapak tulis ini, apa tim penguji bakal bisa baca nanti. Tapi, saya yakin Pak. Doa dan dukungan bapak insyaAllah memenangkan saya 😂😂😂

Akhirnya saya sampaikan juga ke penguji sesuai pesan Pak Warek saya itu kalau saya harus bilang “Wakil rektor saya itu alumni AAS, beliau punya relasi internasional kuat, Australia, Amerika, Timur Tengah hingga Eropa dan beliau siap menjamin saya untuk mengajar sebagai dosen di UIN Jambi.

3. Uhm, so you are a Language Ambassador. I was an ambassador too bla bla bla

Mereka, dua orang penguji itu, bercakap cakap tentang kalo pewawancara Australia yang masih muda ini pernah jadi Duta juga dulunya, hahaha saya cuma senyum nyengir tak menjawab. Karena itu bukan pertanyaan.

4. What have you done in order to prepare your study?

Mengamati fenomena sosial di lingkungan di Jambi khususnya almamater saya sendiri UIN STS Jambi dan mempelajari inovasi dan pengembangan pendidikan seperti apa yang yang dibutuhkan. Mencari kampus yang tepat yang bisa menfasilitasi dan mengakomodir kebutuhan tersebut, jurusan apa yang harus di ambil dan mata kuliah apa saja yang saya butuhkan selama dua tahun study. Si pewawancara langsung memotong dan bertanya, “oh, jadi mata kuliah apa aja itu?” Baru saya sebutkan tiga mata kuliah, mereka langsung mengangguk dan menghentikan skip ke pertanyaan berikutnya. Alhamdulillah, karena waktu itu saya juga belum hafal itu 8 mata kuliah yang ingin diambil untuk 4 semester. Lha kuliah nya aja belum, gimana mau ingat nama-nama mata kuliah nya. Jangankan itu, nama mata kuliah S1 yang pernah dipelajari dulu pun sudah banyak yang lupa. Eh, haha

5. You said that you have ever been to the USA for a Leadership program. So, did you find any particular problem and how did you solve it?

6. On your application you said that you wanna be a lecturer, but you also wrote you wanna be a policy maker. Actually, what do you wanna be? It would seem to me that you do not have any focus. You wanna be like this, like this and like this.

ups, saya cuma bisa senyum menjaga image tetap menahan hati karena ekspresi sang pewawancara itu seperti meremehkan saya hahahaha namanya juga nguji. Sambil sedikit nyengir dan ingin menjawab. Tapi belum saya berbicara si pewawancara sudah menyambung lagi komentarnya.

You know, every time I ask candidates who are from the educational background “why do you wanna study in Australia?” they will simply answer “I wanna be a better teacher”. Simple as that. You know, a lecturer and a policy maker are two different jobs that you can not do at the same time and that would be impossible and of course because those are two different sectors.

ckckckckckck… lagi-lagi saya cuma bisa nyengir, kalem dan akhirnya mendapatkan kesempatan jelaskan.

Saya sempat keceplosan membuka jawaban dengan bilang “Yes, it is a kinda ambitious planning”.

Lalu si pewawancara langsung merespon, “Yes, you are too ambitious!”

Walah, gawat ini. Dalam hati saya sudah mulai gundah, tapi saya berusaha mengedalikan diri dan keadaan.

Saya sampaikan intinya: tentu semua sektor itu saling berhubungan, sama-sama di bidang pendidikan. Saya menjadi dosen agar saya bisa menginspirasi dan berbagi langsung di dalam kelas kepada mahasiswa saya nantinya. Sementara itu bagaimana bisa saya mau menjadi bagian dari policy maker di kementerian atau dinas pendidikan, jawabannya ialah karena selama ini saya sudah menjalin kerja sama dengan intansi tersebut memberikan training dan seminar kepada guru-guru mengenai metode pembelajaran tepatnya dimulai sejak saya lulus dari program-program pembibitan pengajar muda Camp EPIC RELO US Embassy Jakarta. Jadi, bukan tidak mungkin bagi saya untuk masuk ke dalam lingkaran itu dan saya yakin kesempatan akan semakin terbuka lebar ke depannya.

7. Uhm, I see here that you put a research plan. Actually, we don’t really recommend Master candidates of Australia Awards to do research. Taking coursework study is enough.

Yes, I would like to do the minor thesis because I am planning to continue to a PhD program later. As I am gonna be a lecture, of course I do need it. Besides, I hope my future research which will take place in my home university, will contribute to the development of my university programs.

Program yang saya ambil ialah Master by coursework (with minor thesis).

Why do you choose that topic?

Saya jelaskan alasannya.

8. Pewawancara Indo seingat saya hanya menanyakan satu poin konfirmasi. You said here (on the application) that you wanna be back to your current institution (Kursusan di Kampung Inggris) but you also said you wanna be a lecturer in Jambi.

Engga mungkin kan saya jawab, “Maaf bu, eh oh eh ah itu waktu itu saya khilaf, saya akui salah tulis” ckckckckcckkck. Jangaaan. Jangan begitu.

Jawablah dengan tenang dan diplomatis. “Oh itu, ya, saya tuliskan begitu karena selama ini saya sudah sering bolak balik Jambi-Kampung Inggris untuk mengajar, dan jarak bukan halangan bagi saya dan saya yakin nanti kedepannya saya tetap akan bisa berkontribusi di lembaga itu dengan berbagi melalui seminar dan training bagi para pengajarnya, dan menjadi bagian dari tim akademik melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum.

9. Alright, that is all our interview and do you have any question?

Nah, memang dari awal sudah disampaikan oleh ketua tim seleksi bahwasanya kandidat akan diberikan waktu 2 menit untuk menyampaikan sesuatu atau bertanya di akhir sesi wawancara yang 20 menit itu.

Sesuai dengan pesan wakil rektor yang merekomendasikan saya, ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, sampaikan lah ucapan “terima kasih bahwa sudah diperkenankan mengikuti wawancara, semoga yang saya usahakan selama ini jadi pertimbangan untuk meluluskan saya bla bla bla” (sedikit merayu).

3 thoughts on “Tips untukmu, Kawan, Pemburu Beasiswa Luar Negeri!

  1. setelah saya berselancar di internet, saya bersyukur bisa baca tips dan pengalaman mas mengikuti seleksi AAS. saya Santi dari Maluku Barat Daya, saya sekarang juga sedang mengikuti proses seleksinya untuk AAS intake 2019. boleh tanya, kalau sudah terlanjur submit dengan informasi yang kurang komprehensif dalam menjawab pertanyaan2 di aplikasi terus ditambahkan pada saat wawancara kira2 boleh ga ya? ada saran? terima kasih sebelumnya.

    Like

    1. Halo Saudari Santi,

      Syukurlah, saya senang bisa berbagi cerita.

      Mengenai poin itu, saya sangat mendukung, justru wawancara itu adalah momen memperjelas dan menyampaikan semua hal, baik itu yg belum tertuliskan diaplikasi ataupun ide-ide yang muncul dipikiran. Jadi, di sesi wawancara itu, memang harus betul-betul optimis dan meyakinkan.

      Semangat sukses!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s