Australia Awards Scholarship (AAS) · Scholarship Information · Self-motivation

Kamu Yakin Mau Apply Beasiswa Luar Negeri?

Halo, sobat! Sudah lama sebenarnya saya ingin menyampaikan gagasan melalui tulisan dengan dengan judul ini. Judul “Kamu Yakin Mau Apply Beasiswa Luar Negeri?” ini saya angkat untuk mengkonfirmasi, menekankan, memberikan gambaran sekaligus semangat buat kamu baik itu yang sedang dalam persiapan maupun pernah atau baru saja mau memulai bermimpi untuk melamar beasiswa, khususnya luar negeri dan merasakan kehidupan di luar negeri melalui bidang pendidikan. Nah, berikut ini ada beberapa poin penting yang kamu sebaiknya sadari dan semoga bisa menjadi acuan bergerak dan melangkah ke tahapan persiapan berikutnya jika benar-benar ingin lulus beasiswa luar negeri.

Baca juga Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

Baca juga: Tips AAS saya

Jangan terlalu sering bertanya, banyaklah membaca

Walaupun menurut kamu di sekeliling mu terdapat beberapa orang ataupun banyak teman yang saat ini sedang kuliah di luar negeri ataupun lulusan luar negeri, jangan pernah merasa bahwasanya mereka adalah tempat yang selalu siap sedia untuk ditanyakan (mungkin mereka juga sibuk dengan aktivitas pribadinya). Apa maksudnya? Sebelum bertanya, pastikan dulu pertanyaan yang akan diajukan atau permasalahan yang ingin ditanyakan itu memang benar-benar tidak kamu dapatkan dari manapun karena pada dasarnya pertanyaan kamu itu mungkin sudah tersedia di beberapa sumber informasi dan bisa dibaca sendiri.

Jika kamu memang benar-benar serius ingin memenangkan sebuah peluang beasiswa luar negeri, tunjukkan kegigihan mu dalam usaha mencari informasi secara mandiri dengan membaca, bukan hanya bergantung dari apa yang disampaikan dari mulut orang lain. Beasiswa Australia Awards, sebagai contoh, memiliki buku panduan (Policy Handbook : download disini ) yang cukup tebal terdiri dari ratusan halaman yang memuat banyak poin-poin penting yang harus diketahui baik oleh calon pelamar maupun awardee. Selain itu, Australia Awards juga menerbitkan brosur akan tersedia versi cetak maupun softcopy disebarkan melalui berbagai forum ataupun perantara siapa saja ke seluruh Indonesia. Nah, sebagai tambahan pula, manfaatkan dengan cerdas gadget kamu untuk mengakses website resmi misalnya australiaawardsindonesia.org untuk mendapat update informasi.

Kuliah di luar negeri mengharuskan kita untuk semakin giat dan konsisten dalam hal membaca apa saja, baik itu informasi maupun membaca keadaan. Saya masih teringat dua tahun lalu ketika hendak berangkat ke Amerika Serikat untuk International Leadership Program disana, saya dan tim yang berjumlah dua belas orang diberikan pengarahan (briefing) sekitar dua jam di gedung US Embassy di Jakarta oleh koordinator program kami. Beliau sangat menekankan dan menegaskan agar tepat setelah kami keluar dari garis batas negara Indonesia dan pertama kali menginjakkan kaki di manapun itu di luar negeri, mulai dari transit di Jepang hingga memasuki wilayah Amerika Serikat (Chicago, transit pertama) kami harus mulai membaca karena pada dasarnya informasi penting publik sudah mereka sediakan melalui travel guide, layar pengumuman dan pemberitahuan di dinding. Lantas, bukankah disana banyak orang yang bisa dimintai tolong? Budaya baca negara Barat itu sangat kuat, jika kamu bertanya tentang hal yang kecil yang sebenarnya sudah disediakan di dinding-dinding publik, mereka akan meminta mu untuk membaca informasi itu terlebih dahulu dan mendapatkan jawabannya dari sana. Nah, momen-momen itulah yang menjadi acuan bagi saya belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia luar, begitu juga dengan kamu. Baca juga: Tips AAS saya

Betul sekali menurut mu itu pertanyaan penting untuk ditanyakan kepada teman yang berpengalaman, tapi sebenarnya kamu bisa mendapatkan jawaban-jawaban itu melalui membaca dari mana saja. Hingga saat ini pun saya yakin ada ratusan atau ribuan artikel tentang beasiswa luar negeri yang tersedia di internet. Jika diperhatikan, di website Australia Awards Indonesia (Application FAQs) ataupun katakanlah LPDP Kemenkeu RI, kamu pasti akan mendapati kolom Frequently Asked Question (FAQ). Kolom itu tersedia hampir disemua platform penyedia dan penyelanggara program-program penting. Saya juga percaya orang-orang yang sudah pernah menerima beasiswa luar negeri juga pasti melakukan pola persiapan seperti ini. Jadi, bukan berarti tidak boleh bertanya ya, tapi pastikanlah terlebih dahulu bobot pertanyaannya dan saya dulu juga banyak bertanya untuk hal yang benar-benar detil khususnya ketika pengisian aplikasi. Jauh sebelum pendaftaran dibuka saya belum bertanya apa-apa karena saya juga takkan langsung mengerti. Jadi baiknya agar lebih relevan, teman-teman bertanya ketika memang sudah menjalani proses. Tiga tahun lalu sewaktu bersama tim Jambi Scholarship Seekers saya selalu aktif datang pertemuan kami, tapi hanya fokus mencatat apa yang mereka diskusikan dan tidak bertanya apa-apa karena waktu itu saya belum akan apply beasiswa. Jadi, dengan mengamati dan mencatat pengalaman mereka saya sudah punya gambaran dan acuan. Nah, mulai sekarang bergeraklah dengan bijak!

Siapkan dokumen yang diperlukan jauh-jauh hari

Yang harus diketahui adalah,

Keinginan, mimpi dan impian yang tidak perjuangkan hanyalah angan-angan belaka.

Memang betul setiap orang punya caranya sendiri meraih keberhasilan begitu juga dengan mu. Tapi dalam hal ini, beasiswa ke luar negeri, jika kamu memang benar-benar ingin memperolehnya, kamu harus siap mengambil langkah, memulai bergerak dari hal yang terkecil yang kemudian gerakan itu haruslah semakin membesar dan konsisten. Maksudnya apa? Pertama ialah siapkanlah dokumen yang diperlukan jauh-jauh hari. Ini tidak perlu ditanyakan lagi ke yang berpengalaman. Kamu yakin mau kuliah ke negeri barat? Setidaknya terjemahkanlah terlebih dahulu dokumen penting yang (kemungkinan) akan dibutuhkan (bagi yang belum), seperti ijazah, transkrip nilai, akta kelahiran dan dokumen pendukung lainnya (beberapa instansi saat ini sudah mengeluarkan dokumen dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris). Nah, itu engga perlu deh dikonfirmasi lagi ke siapapun. Pengalaman saya beberapa tahun lalu, seminggu setelah wisuda S1, saya langsung menerjemahkan dua dokumen itu termasuk juga akta lahir. Nah, di AAS sendiri tidak diminta legalisir terjemahan, cukup sediakan yang asli. Sebagai jaga-jaga persiapkan jugalah legalisir untuk versi bahasa Indonesia (Ijazah dan Transkrip). Selanjutnya mungkin semangat untuk berjuang itu semakin diperkuat dengan membuat paspor, karena cepat atau lambat paspor itu diperlukan juga. Buku sakti kecil itu berlaku lima tahun, jadi tidak hanya untuk kuliah tapi bisa juga untuk travelling luar negeri. Ya, paspor ini sifatnya opsional.

Sebagai tambahan lagi, walaupun saya belum pernah melamar LPDP, tapi sejak akhir tahun 2015 tepat sebulan saya wisuda S1, saya langsung menulis tiga esai yang disyaratkan (Kontribusiku terhadap negeri, Kesuksesan terbesar dalam hidupku dan Rencana studi) dan di tahun 2016 saya sudah mulai membuat akun LPDP Kemenkeu di website resminya. Ya, 2017 saya malah cuma berkesempatan apply satu-satunya beasiswa yaitu AAS (dan Alhamdulillah langsung lulus). Setidaknya saya sudah menunjukkan keseriusan saya ingin melamar beasiswa apa saja. Bagi kamu yang ingin melamar selain beasiswa AAS, ada baiknya pula sudah memiliki LoA (paling tidak Conditional) dan ini akan membuktikan serta memperkuat posisimu dalam proses administrasi maupun wawancara beasiswa. Jadi, persiapkanlah dengan baik semua jenis senjata dan perluru yang banyak yang diperlukan sebelum berperang.

Persiapkanlah dengan baik semua jenis senjata dan perluru yang banyak yang diperlukan sebelum berperang.

Baca juga: Proses Perjalanan AAS Saya

Pertajam insting dan tetapkan tujuan yang jelas

Yang dimaksud dengan mepertajam insting ialah mengasah critical thinking (membiasakan berpikir kritis dan logis). Ini sangat diperlukan tidak hanya ketika melamar beasiswa tapi juga nantinya dalam menjalani kehidupan di luar negeri agar bisa bertahan hidup dengan mantap serta mampu menghadapi tantangan-tantangan yang akan dihadapi dengan matang dan bijak. Mulai untuk mengurangi kebiasaan kebiasaan kecil yang tanpa disadari tidak membawa manfaat. Pertama ialah sikap menunda-nunda melakukan sesuatu. Lakukan lah apa yang bisa dilakukan saat ini juga seberapa panjang itu waktunya (ini termasuk dalam persiapan aplikasi), dan jangan last minute. Kedua buanglah pikiran sempit, tertutup dan susah dalam berkompromi. Benar, kita harus menyeimbangkan logika dengan perasaan, tapi ada hal-hal yang kalau selalu dibawa perasaan akhirnya menjadi penyakit dan menghambat kemajuan kita sendiri seperti merasa bahwa dirimu itu belum pantas untuk lulus beasiswa karena belum pernah punya pengalaman apa-apa atau tidak mempunyai sesuatu yang dibanggakan. Konyol sekali. Saya sering menyemangati kawan-kawan yang ingin melamar beasiswa dengan menyampaikan seperti ini :

Dalam mengisi aplikasi maupun menghadapi wawancara beasiswa, hormatilah sekecil apapun pencapaian yang kamu pernah dapatkan dalam hidupmu. Buang rasa sungkan, malu dan minder.

Misalnya saya, dengan latar belakang pendidikan dan kalau diamati tidak ada yang spesial dari hidup saya sebagai seorang guru biasa dan pengalaman mengajar saya selama ini yang hanya di lembaga kursusan saja. Tapi, saya sangat menghargai dan menghormati apa yang diri saya sendiri sudah lakukan selama ini. Sebagai seorang pendidik, saya mencoba tidak hanya mengajar dalam kelas tapi juga berkontribusi melalui gagasan-gagasan yang dituangkan dalam pembaharuan sistem yang bermanfaat bagi lembaga seperti memberikan ide-ide baru mengenai metode mengajar, mendesain materi ajar, menyiapkan kurikulum pengajaran, evaluasi dan lain-lain.

Selanjutnya, tetapkan tujuan (rencana) study yang jelas dan detil lengkap dengan kontribusi ke depan setelah lulus dari pendidikan tersebut. Pastikan untuk tidak hanya memikirkan keuntungan diri pribadi tapi juga melibatkan orang lain dalam menikmati hasil kesuksesan yang kamu peroleh. Maksudnya, jangan lupa cita-cita kedepan itu dampaknya juga berguna dan bermanfaat untuk umat (masyarakat).

2 thoughts on “Kamu Yakin Mau Apply Beasiswa Luar Negeri?

  1. Halo Kak. Salam kenal! Saya Silvia baru saja ditolak untuk AAS tahun ini pada tahap interview.

    Setelah membaca email announcement, sempat sedih dan merasa minder karena sudah ditolak. Tapi setelah membaca tulisan Kakak jadi semangat lagi, terutama kalimat ini:

    Dalam mengisi aplikasi maupun menghadapi wawancara beasiswa, hormatilah sekecil apapun pencapaian yang kamu pernah dapatkan dalam hidupmu. Buang rasa sungkan, malu dan minder.

    Daripada merasa malu karena ditolak, saya bersyukur karena sudah bisa shortlisted dan akan mencoba lagi tahun depan.

    Terima kasih untuk tulisannya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s