Australia Awards Scholarship (AAS) · My Journey · Scholarship Information

Surat Cinta Australia Awards Scholarship

Bila mengingat kembali saat-saat saya menghadapi dua orang pewawancara Joint Selection Team (JST) AAS pada saat itu, di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, saya pikir saya termasuk kandidat yang sangat habis-habisan mendapatkan banyak komentar memojokkan dan cukup kejam tentang aplikasi saya dari salah seorang pewawancara lelaki yang merupakan Doktor muda dari Australia dan beliau seperti selalu mencari-cari celah kelemahan saya, walaupun menurut saya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sebenarnya cukup standar. Maksudnya, pertanyaan pewanwancara hanya seputar aplikasi saya dan informasi itu sudah saya dapatkan melalui kisah-kisah alumni dan awardee sebelumnya yang saya baca di internet maupun dari seorang teman Aceh yang membantu saya selama proses seleksi yang sudah lulus AAS 2016 lalu.

Saya pikir saya bisa menguasai diri dan keadaan serta memberikan jawaban yang meyakinkan dan saya pun menyadari banyak hal bahwasanya saya harus belajar lebih banyak lagi guna menyempurnakan aplikasi saya. Saya tau ini adalah pengalaman pertama saya yang akan menjadi momen sangat berharga untuk melangkah dan perbaikan selanjutnya. Hingga wawancara usai, saya meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan hampa dan nyaris tak bernyawa, seluruh badan dingin namun tak berkeringat. Jelas sudah pada saat itu sepertinya nyawa saya sudah tinggal separuh di badan.

Dengan langkah kaki yang tetap harus saya kuatkan, sepanjang jalan menuju penginapan pikiran saya melayang-layang kembali ke dua puluh menit wawancara itu mengingat kembali dan terheran-heran apakah aplikasi saya seburuk itu. Bahkan pada saat itupun saya sudah berpikir untuk siap mengikuti tes AAS untuk kedua kalinya tahun depan (2018). Saya masih ingat betul kata-kata terakhir pewawancara tersebut yang masih sangat jelas bisa saya kutip:

“Actually, your application wasn’t perfect…”

Saya sadar diri, saya harus mengevaluasi diri, merenungkan kembali semua hal yang sudah saya lalui dan memperbaharui semua yang diperlukan.

“Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama saya melamar beasiswa (S2) Master seumur hidup saya dan beasiswa pertama yang saya coba. Ya, beasiswa Australia Awards ini.”

Selepas saya mengikuti tes IELTS dan wawancara studi AAS di tanggal 15 dan 25 Juli 2017 lalu di Jakarta Selatan, saya langsung bergegas bertolak ke Pare, Kediri – Jawa Timur untuk melanjutkan pekerjaan saya yang sudah lama saya tinggalkan selama cuti guna menyiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan AAS. Tanggal 27 Juli saya tiba di Kampung Inggris dan sudah ditunggu oleh lima kelas sekaligus yang harus menjadi tanggung jawab saya selama dua periode ke depan.

Sebulan berlalu, pada tanggal 25 Agustus 2017.

Hari itu merupakan hari libur program setelah sehari sebelumnya penutupan kelas periode per dua minggu belajar mengajar di Kampung Inggris. Di dalam ruang kamar Camp khusus tutor yang sudah dijatahkan untuk saya, sejak pagi-pagi sekali saya sudah sibuk mengoreksi lembaran-lembaran tugas akhir dan merekap nilai para member dari lima kelas yang saya handle untuk segera dilaporkan ke office Global English (GE). Sementara itu, sesekali saya buka grup telegram yang berisi para kandidat yang lulus seleksi administrasi dan ikut wawancara AAS dan saya temukan ruang percakapan itu semakin ramai dan sibuk mencari tau siapa saja yang sudah mendapatkan email hasil pengumuman.

Sampailah sekitar jam 10.30 masih di pagi itu juga, saya sudah mulai merasakan gejala-gejala yang memang biasa melanda di musim liburan, yakni kantuk yang selalu tak tertahan serta perasaan ingin terjun langsung ke tempat tidur dan berselimut, meninggalkan berbagai macam kertas tulisan hasil final test yang berserakan sepenuh kamar saya itu. Ya, saya harus putuskan untuk tidak memaksakan diri terus bekerja dan beristirahat memejamkan mata barang sejenak.

Setelah hampir satu jam saya tertidur, pukul sebelas siang itu, saya terjaga namun masih uring-uringan di pembaringan dan mencoba membuka mata dan melihat android. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan adanya notifikasi email dengan judul “Australia Awards Indonesia 2018 – Selection Outcome”. Tak menunggu lama saya langsung membuka dan membaca isi pesannya. Ternyata ini merupakan surat cinta Australia Awards spesial untuk saya dimulai dengan ucapan “Congratulations!” yang menyatakan bahwa saya lulus dan diterima sebagai awardee beasiswa Australia Awards 2017 untuk intake 2018. Saya lulus menjadi salah satu dari 300 orang awardee penerima beasiswa australia Awards. Tanpa disadari, saya mengucurkan air mata haru dan segera bersujud syukur. Saat itu juga saya screenshoot email itu dan mengabarkan berita bahagia ini kepada orang tua, pasangan, sahabat-sahabat, dan orang-orang yang telah mendukung saya.

Sambil menahan rasa bahagia yang meluap-luap dan air mata yang masih susah berhenti, saya telepon ibu saya dan bercerita. Atas doa dan dukungan orang tua saya, Allah ijabah semua ini dan menerima usaha kami. Alhamdulillah. Sebagai seorang yang berasal dari daerah, hidup dan besar di sebuah desa kecil, Rimbo Bujang (enam jam dari kota Jambi), di pelosok Jambi, ini merupakan kesempatan emas yang sangat berharga dan menjadi pembuka jalan bagi keluarga juga orang-orang di sekitar saya.

Letter of Acceptance -Australia Awards

Dari surat LoA tersebut juga saya baru menyadari bahwasanya pelamar AAS di tahun 2017 ini berjumlah 5300 orang. Wow. Saya memang harus banyak bersyukur.

Walaupun mungkin bagi kawan-kawan sesama tutor waktu itu mereka melihat diri saya masih tenang dan tanpa respon bagaimana-bagaimana, seharian itu adalah hari yang tak karuan bagi saya karena semua perasaan bercampur aduk. Saya sadar betul ini bukanlah akhir dari pertarungan hidup melainkan awal perjalanan petualangan yang lebih besar dan langkah yang harus semakin dikuatkan.

Ya, bila mengingat kembali ke belakang, banyak sudah yang saya lalui dan banyak hal yang terjadi di dalam hidup saya. Mulai dari kuliah yang harus saya lewati selama kurang lebih terhitung lima tahun (sementara kawan-kawan seperjuangan waktu itu sudah banyak yang lulus dalam waktu empat tahun bahkan ada yang hanya tiga setengah tahun) sampai semua pekerjaan saya di Jambi yang harus dikorbankan dan ditinggalkan guna ingin sekali fokus mempersiapkan diri memenangkan beasiswa apa saja yang bisa saya ikuti untuk S2 sejak akhir tahun 2015 tepat sebulan setelah saya wisuda S1. Kini, terhitung dua tahun sejak lulus S1 itu, akhirnya saya memperoleh apa yang telah lama saya cita-citakan dan rencanakan 2017 ini dan akan siap mengikuti pra-perkulihan awal bulan Januari 2018.

Walaupun beasiswa ini adalah yang pertama saya coba untuk mendaftar, sejujurnya dalam diri saya tertanam tekad untuk dapat berhasil (tanpa coba-coba). Ini adalah sesuatu yang serius yang harus saya matangkan persiapannya.

Walaupun saya rasa saya sangat terpojok di saat wawancara AAS, saya tetap menjaga optimisme itu dan berkata pada diri saya sendiri pada saat perjalanan pulang meninggalkan ruang wawancara itu:

“Calon pemenang memang harus siap ditempa dan diuji mentalnya seperti itu, siap menerima komentar-komentar pedas dan kritikan melalui tahapan wawancara tersebut. Sebagai seorang pemenang saya sadar betul bahwa saya harus mengalami proses seperti itu dan selalu siap memberikan jawaban yang tepat dan meyakinkan bahwasanya saya ini layak untuk didukung, bahwasanya gagasan sederhana namun sangat penting saya ini berhak untuk disponsori, didanai dan diperhitungkan.”

Kata-kata tersebut lah yang selalu saya tanamkan di dalam diri saya selama menantikan hasil dari tahapan-tahapan seleksi tersebut.

Yang saya lakukan adalah selalu membangun afirmasi positif terhadap diri saya. Saya meyakini konsep keberuntungan orang-orang sukses di dunia ini miliki bahwa:

Luck = Preparation + Opportunity

Satu lagi yang membuat saya optimis seusai wawancara tersebut ialah kalimat terakhir sambungan dari kutipan pewawancara yang sudah saya sebutkan di atas yang berbunyi:

“Actually your application wasn’t perfect,…

However, you have already clearly explained everything well, and good luck!”

Saya mendengarkan kata-kata terakhir itu dengan sangat jelas. Inti dari pernyataan penutup itu berada di kalimat terakhir itu. Itulah yang cukup melegakan bagi saya ketika itu.

Semoga pembaca sekalian yang tengah menyiapkan semua hal yang berhubungan beasiswa diberikan kelancaran dan kesuksesan.

4 thoughts on “Surat Cinta Australia Awards Scholarship

  1. Kak, mau nanya soal IELTS.
    Kakak kan daftar awal nya pake skor IELTS, nah setelah dinyatakan lolos berkas kenapa mesti di tes IELTS lagi kak?

    Like

    1. Halo Dwi,

      Tes IELTS merupakan salah satu prosedur dari sistem seleksi AAS. Seluruh Applicants yang dinyatakan lulus seleksi administrasi (bahan) wajib mengikuti tes IELTS tak peduli apakah mereka sebelumnya sudah memiliki sertifikat IELTS atau belum.

      Tapi ada pengecualian:

      Yakni bagi pelamar yang Tes IELTS nya dilakukan/ sertifikat IELTS nya dikeluarkan dalam kurun waktu 3 bulan sebelum Tes IELTS AAS dilaksanakan.

      Maksudnya:

      Bila misalnya Anda sudah lulus administasi dan diundang untuk mengikuti Tes IELTS dan wawancara di bulan Juli, Anda boleh tidak mengikuti Tes IELTS AAS dengan catatan sertifikat IELTS yang sudah dimiliki itu dikeluarkan antara bulan April, Mei, Juni. Begitu.

      Walaupun demikian, saya tetap anjurkan kawan-kawan tetap mengikuti Tes IELTS AAS. (Selain memang gratis, hitung-hitung ini mengupdate kemampuan dan ‘mungkin’ mempengaruhi penilaian).

      Sukses!

      Like

  2. Semoga saya bisa seperti anda beruntung bisa memperoleh AAS dalam sekali daftar, ini sangat luar biasa. Sekarang saya sedang menunggu untuk seleksi dokument AAS. Semoga saya bisa seperti anda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s