Australia Awards Scholarship (AAS) · My Journey · Scholarship Information

Proses Perjalanan AAS Saya

Seperti yang sudah kita ketahui, pembukaan pendaftaran beasiswa Australia Awards setiap tahunnya dimulai sejak tanggal 1 Februari sampai dengan 30 April. Nah, kali ini saya ingin menceritakan rentetan momen-momen pengalaman saya dalam melamar beasiswa tersebut untuk mendapatkan kesempatan menjadi penerima (awardee) dari beasiswa Australia Awards.

Walaupun aplikasinya online, tetapi saya harus pulang ke Kota Jambi untuk menemui dosen guna meminta bantuan untuk memberikan saya rekomendasi, dalam hal ini Wakil Rektor I UIN STS Jambi dan pembimbing skripsi S1 saya. Jadi, saya putuskan untuk cuti selama sekitar sebulan dan minta izin atasan saya di Kampung Inggris (akhirnya cuti itu menjadi empat bulan lamanya karena berbagai alasan :D).

Untuk diketahui, kampung halaman saya ialah di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Untuk mencapai tempat ini, dibutuhkan waktu sekitar enam jam dari kota jambi (hanya bisa ditempuh) melalui jalur darat. Nah, dikarenakan saya juga telah lama berada di rantau dan tidak pulang, dalam momen itu saya sengajakan untuk pulang ke rumah bertemu kedua orang tua dan adik-adik sekaligus melepas rindu serta memohon doa restu dukungan mereka untuk rencana saya itu.

Jadi beberapa waktu penting dalam perjalanan saya untuk mengurus AAS 2017 :

Bulan Maret :

Tanggal 18 Pulang ke kampung halaman, Rimbo Bujang (Jambi) dari Surabaya, temui keluarga (satu minggu – termasuk demam beberapa hari -ngedrop- badan butuh istirahat total, lelah di perantauan).

Tanggal 27 ke Kota Jambi, dari Rimbo Bujang konsultasi dengan Bapak Wakil Rektor dan beberapa orang dosen saya dulu. Sejak tanggal itu saya mulai buka website AAI dan menghubungi sahabat saya waktu di Camp EPIC dulu yang kebetulan telah lebih dahulu lulus AAS dan beliau berasal dari Aceh. Karena saya tidak memiliki kenalan Alumni AAS yang berasal dari Jambi ataupun dari kampus saya sendiri, saya harus berkonsultasi terus melalui telepon dengan teman Aceh saya itu.

Bulan April

Tanggal 27 Secara resmi saya submit semua dokumen yang telah saya lengkapi (Jadi, saya menghabiskan waktu selama satu bulan kontemplasi guna mematangkan semua data dan tulisan yang harus diisikan melalui aplikasi online AAS.

Bulan Mei Tanggal 6 pulang ke Rimbo Bujang, setelah mendapat kabar bahwa ibu dan adik saya ternyata baru saja mengalami kecelakaan dengan beberapa tulang tangan kanan ibu saya yang bergeser dan harus dibawa ke tukang pijit patah tulang (ditabrak oleh seorang siswi SMP cabe-cabean yang masih sangat labil, terlebih lagi pihak keluarganya yang tidak bertanggung jawab atas insiden itu, Allah Maha Mengetahui). Setelah menjalani pengobatan dengan biaya sendiri, Ibu saya harus beristirahat total sampai kondisi fisiknya pulih selama tiga minggu. Sementara itu, adik saya mengalami luka parah sekitaran wajah bagian kanan dan tangan kanan (hingga meninggalkan bekas luka yang cukup terlihat, perlahan bekas itu mulai membaik karena beruntung ia masih kecil (Kelas 4 SD) dan dalam masa pertumbuhan. Jadi saya habiskan waktu bersama keluarga dan merawat Ibu di rumah hingga memasuki bulan Ramadhan dan lebaran.

Sementara itu, saya sebenarnya masih punya pekerjaan yang harus di lanjutkan di Jawa Timur sana. Saya ikhlaskan semua, dengan keadaan yang sudah tiga bulan tak bekerja dan tak punya penghasilan lagi -sudah habis untuk hidup selama di Kota Jambi- dan harus berada di rumah dan belum bisa kembali bekerja. Saya tau betul, Allah yang atur semua. Dalam masa-masa itu pula saya selalu meminta doa orang tua khususnya ibu untuk kesuksesan saya (Alhamdulillah, Allah kabulkan doa itu).

Bulan Juni

Tanggal 16 (Pertengahan Ramadhan, satu minggu menjelang lebaran), Saya menerima email membahagiakan yang menyatakan bahwa saya lulus seleksi administrasi Australia Awards dan diundang untuk mengikuti tes IELTS dan wawancara studi di Jakarta. Tes tersebut akan diadakan pada bulan Juli (Setelah lebaran). Biaya tiket pesawat akan ditanggung oleh pihak Australia Awards nantinya dan terdapat juga anggaran hingga maksimal Rp750.000 per orang untuk biaya menginap di Jakarta selama menjalani proses itu (Alhamdulilah).

Bulan Juli

– Tanggal 15 (Tes IELTS di IALF Kuningan Jakarta Selatan)

– Tanggal 25 (wawancara studi)

– Tanggal 27 kembali langsung ke Pare (melanjutkan pekerjaan saya yang telah lama saya tinggalkan untuk cuti itu)

Bulan Agustus

Minggu-minggu yang mendebarkan dan semakin menegangkan karena mulai dari rekan sesama tutor, menejer, officer, member hingga orang-orang yang mengenal saya dan tau kalau saya sedang apply AAS selalu bertanya-tanya mengenai hasil nya. Padahal saya secara pribadi sudah tidak mau lagi ambil pusing dengan itu.

Kebiasaan saya itu adalah saya suka telat merespon keadaan ketika saya sedang dalam proses pertarungan program. Saya anggap itu sudah berlalu, sekarang saatnya melanjutkan pekerjaan yang ada di depan mata dan lakukan yang terbaik untuk sesuatu yang baru yang akan dihadapi walaupun saya terus berdoa dan meminta pada Allah.

Saya pikir, tugas saya memperjuangkan sebuah kesempatan sudah selesai, sisanya adalah urusan Tuhan, apapun hasilnya itulah yang terbaik yang telah digariskan untuk hidup saya. Sikap optimis ini sudah tertanam sejak lama. Saya masih ingat beberapa kutipan yang saya dapatkan dari sebuah buku beberapa tahun silam saat saya masih di awal bangku kuliah yang berbunyi: “Allah memberikan apa yang engkau butuhkan, bukan apa yang engkau inginkan.” dan ini:

“Life is a game. Sometimes you win, but sometimes you learn”. -anonym

Bulan Agustus Tanggal 25 Pengumuman lulus. Saya terima email kelulusan dari Australia Awards Indonesia. Alhamdulillah.

Nah, bagi Anda yang ingin apply AAS, saya ucapkan selamat berjuang dan semoga sukses!

45 thoughts on “Proses Perjalanan AAS Saya

  1. Kak, saya kurang paham dengan pertanyaan “Provide details from your current business address” di page one additional information untuk aplikasi AAS. Bisa tolong pencerahannya kak?

    Pertanyaan kedua, apakah komunikasi melalui email dengan pihak kampus Australia, misal menanyakan perihal mata kuliah itu dikatakan “relevant correspondence with an ausralian university” sperti yang tertera di additional document page 5?

    Like

    1. Halo, Dwi.

      Sejujurnya saya juga sudah lupa bagian detil data-data kecil di OASIS yg seperti ini. Tapi, menurut pemahaman saya dari kutipan tersebut, yang diminta adalah informasi alamat tempat bekerja saat ini.

      Saya juga belum pernah punya pengalaman langsung mengenai Korespondensi dengan kampus. Tapi, lagi, menurut pemahaman saya yg dimaksudkan dengan korespondensi ialah komunikasi (diskusi kecil) yang kita lakukan dengan calon profesor pembimbing di kampus tujuan tentang rencana riset masa depan. Jadi, kalau hanya sekedar tanya jawab informasi dengan pihak staff kampus belum termasuk korespondensi yang dimaksudkan.

      Like

      1. Terima kasih jawabannya kak.
        Sekedar konfirmasi, berarti waktu dulu kakak apply AAS, yang dibagian dokumen tambahan (optional), kakak tidak meng-upload file tentang relevant correspondence with an Australian University?

        Like

      2. Halo Dwi,

        Saya tidak memasukkan bahan korespondensi karena tidak diwajibkan bagi target jurusan yang saya ambil (Master by Coursework).

        Bukti Correspondence diwajibkan bagi pelamar Ph.D dan Master by Research.

        Like

  2. Halo kak, sejauh penelusuran saya (maaf jadi menelusuri, hehe) ttg riwayat pendidikan kakak.
    S1 kakak itu di pend. B. Inggris, tapi, untuk master mengambil master of education. Kenapa kakak tidak mengambil TESOL yg linier dgn S1 dulu?

    Dan, tulisan kakak juga bahwa setelah lulus akan mengajar di Univ di Jambi, apakah kakak akan mengajar di department S1 dulu atau di department lain?

    Terima kasih.

    Like

    1. Halo Indri,

      Terima kasih sudah membaca cerita perjalanan saya. Waah menarik ini saya suka pertanyaannya. 😀 Ya betul, S1 saya Pendidikan Bahasa Inggris.

      ##Begini ceritanya (alasannya):

      Niat ingin mengambil jurusan ini sudah lama sekali saya cita-citakan.

      ##Secara polos dulu alasan saya adalah :

      “Kenapa saya harus belajar (mendalami) Bahasa Inggris jauh-jauh sampai ke luar negeri jikalau nantinya ilmu itu tidak bisa dirasakan manfaatnya bagi seluruh orang yang ada di Indonesia, kalau saya bisa belajar manajamen dan kurikulum yang nanti ilmu dan manfaatnya bisa diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, di seluruh wilayah hingga pelosok desa mana pun di Indonesia.”

      Di kampung saya Rimbo Bujang (Kabupaten Tebo – Jambi), misalnya, Kursusan Bahasa Inggris saja pada tutup. Maksudnya tidak semua orang mau belajar Bahasa Inggris dan tidak semua jenjang pendidikan di sistem pendidikan kita mewajibkan Bahasa Inggris.

      ##Sejujurnya, penjelasan yang sebenarnya di balik itu semua adalah:

      Jikalau saya belajar dan mendalami Evaluasi, Manajemen dan Kurikulum pendidikan termasuk juga E-Leaning, saya insyaAllah memiliki ruang yang luas untuk benar-benar membawa manfaat ke seluruh jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari TK hingga perguruan tinggi hingga pelosok desa manapun (sebagai Policy Maker).

      Dengan jurusan sekarang ini, loncatan saya adalah menjadi Pengajar Ahli di Fakultas (ruang lingkup yg lebih luas), jadi saya tidak hanya berkutat di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris saja. Saya sangat ingin berkontribusi lebih luas dan besar di pembaharuan dan peningkatan kualitas di tingkat Fakultas Pendidikan (FKIP). Saya bisa mengajar Kurikulum Pendidikan, Evaluasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, E-Learning dll di jurusan lain yang ada di Fakultas Pendidikan di Universitas saya. Nah, saya tetap akan bisa mengajar (sebagai dosen) di jurusan Bahasa Inggris juga tentunya.

      Selain itu, ini juga mewakili kebutuhan institusi (kampus) saya. Kami masih cukup minim tenaga pengajar lulusan luar negeri. Bahkan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris saya belum mempunyai dosen (tetap maupun tidak tetap) lulusan luar negeri apalagi yang memiliki gagasan internasional dan visioner terlebih lagi di fakultas pendidikan itu sendiri.

      Bicara linieritas, jurusan yang saya ambil sekarang tentu saja (masih) linier dengan latar belakang S1 karena tetap di bidang pendidikan.

      ##Kenapa tidak ambil TESOL?

      Walaupun tidak belajar di Master of TESOL, saya Alhamdulillah juga sudah bersertifikat TESOL. Pada 2016 lalu saya salah satu delegasi Indonesia perwakilan Regional English Language Office (RELO) US Embassy Jakarta untuk menghadiri The 50th TESOL Convention diselenggarakan di Baltimore, Maryland District (Amerika Serikat) selama 1 minggu penuh, diikuti dengan International Visitor Leadership Program (IVLP) di minggu berikutnya di beberapa kota di Amerika Serikat. Selain itu, yang sangat teramat menginspirasi saya adalah program Pre-service Teacher EPIC Camp yang diselenggarakan oleh RELO juga yang saya ikuti di tahun 2015 (sebagai peserta) dan 2016 (sebagai konselor) dimana kami diajarkan untuk mengajar Bahasa Inggris secara kreatif dan menyenangkan dengan system Student Centered dan banyak lagi hal-hal lainnya yang membuka mata dan pikiran saya yang benar-benar sangat meningkatkan kualitas diri saya sebagai guru Bahasa Inggris.

      Dari sana jualah saya tersadar, kenapa tidak saya terapkan system pengajaran seperti ini di mata pelajaran lain, saya yakin saya bisa membawa penerapan methodology pengajaran seperti itu di jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah. Untuk itu, tentu saya harus mendalami bidang tersebut secara professional yang saya lakukan salah satunya dengan memilih jurusan Master of Education saat ini.

      Ada hal yang menarik, 2 bulan sebelum keberangkatan saya ke Australia, selama November dan Desember 2017, saya mengambil cuti panjang dari pekerjaan menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tua dan adik adik saya. Nah, suatu ketika saya mengajak adik kedua saya (kelas 4 SD) untuk membuka buku pelajarannya dan belajar bersama atas bimbingan saya. Saya lihat dari buku tersebut, ternyata pemerintah sudah menerapkan Sistem Tematik Integrative (TEMA). Ini sebagian kecil system pendidikan yang saya pelajari dari RELO dan yang saya observasi dari sekolah-sekolah di Amerika Serikat (Barat). Mengajarkan anak SD inipun tak terlepas dari bantuan teknologi internet dalam hal menyediakan bahan-bahan dan materi ajarnya. Saya praktikan itu ke adik saya di rumah dan terbukti semangat belajar nya meningkat.

      Ini sangat menarik, seharusnya beginilah pendidikan dibawakan. Tapi masalahnya adalah, (jujur saja, harus diakui) tidak semua guru sekolah dasar mengerti cara membawakan/ mengajarkan system ini kepada anak muridnya.

      Nah, inilah PR kita semua dan pemerintah.

      Saya sebagai yang mempelajari dan mendalami pedagogy di Fakultas Pendidikan memiliki tanggung jawab moril untuk berkontribusi bagi dunia pendidikan Indonesia yang akan saya mulai dari Fakultas saya.

      Ini mungkin terlihat seperti rencana yang sangat ambisius, tapi saya yakin itu semua bisa dilakukan dan diwujudkan (Everything is possible). Saya percaya prinsip itu. Saya akan belajar terus untuk menghasilkan ide yang workable.

      Kira-kira seperti itulah sepenggal kisah dari keputusan hidup yang saya ambil ini, Indri, karena bila membahas ini sejujurnya akan jauh lebih panjang dari ini penjelasannya. Masih banyak yang ingin saya ceritakan 😀

      Jawaban ini pun sudah menghabiskan 2 halaman A4 😀
      Terima kasih Indri. Semangat

      Salam,

      Yanri Ramdhano

      Like

      1. Suka sekali sama jawabannya kak. Saya masih scroll down berharap ada penjelasan lagi, ehh udah habis ternyata. Wkwk

        Terima kasih pertanyaan saya sudah di respon sangat cepat. Stay healthy and enjoy your study kak, Barakallah.

        Like

      2. Amin Ya Allah, terima kasih Indri.

        Ya, masih panjang sebenarnya yang ingin diceritakan, tapi jawaban 2 halaman A4 di atas semoga sudah cukup mewakili 😀

        Semangat, semoga sukses dan tercapai apa yang dicita-citakan, Indri.

        Like

      1. Hi kak, it’s me again.
        Di OASIS yg bagian form EVIDENCE DOCUMENT, nah disitu ada pilihan jenis dok yg perlu di upload dan description. Yg bagian description itu bgmna kak? Apa yang perlu di deskripsikan dari dokumen akta lahir misalnya.

        Oh iya, 1 pertanyaan lagi untuk dokumen akta lahir dan KTP itu tidak perlu di legalisir. Apakah jika saya upload dalam format yg sudah di legalisir akan di penalized?

        Like

      2. Hi Fadhilah,

        Pengalaman saya mengisi kolom ‘Description’ hanya dengan menuliskan nama jenis dokumen. Misal; “Birth Certificate”, atau “Transcript” dan nama dokumen lainnya.

        Saya pribadi kebetulan menggunakan scan paspor langsung bukan KTP.

        Mungkin perlu kita sama-sama meluruskan pemahaman.

        Apa gunanya online application? selain practicality-nya juga jadi bagian dari tindakan environmentally friendly, maksudnya menghemat kertas (Paperless).

        Selanjutnya, dokumen yang harus dilegalisir (di-legal-kan) adalah dokumen fotokopi-an. Nah, kalau kita gunakan scan-an dokumen yang asli, artinya dokumen itu sudah asli, untuk apa di-legalsir lagi? Begitu.

        Nah, mulai sekarang saya ingin mengajak kawan-kawan menggunakan logika berpikir seperti ini. Semua scan-an dokumen asli tak butuh legalisir.

        note: jika menemukan kasus seperti itu di institusi pemerintahan Indonesia, harap maklum saja. SDM kita butuh selalu ditraining dan diupgrade.

        Jadi, scan passpor dan akta lahir tidak perlu legalisir lagi.

        Sekian. Semangat!

        Like

      3. Terima kasih kak. Memastikan lagi supaya sy tidak misunderstanding.

        Berarti misalnya di bagian DOCUMENT TYPE kita pilih Proof of Citizenship kemudian di bagian DESCRIPTION kita hanya perlu menulis hal yang sama lagi? Seperti itu kak?

        Like

  3. Kak yang dimaksud dengan employer/authority statement itu apa yah kak yang dibagian documentary evidence…? Apa itu hanya dokumen tambahan bagi pelamar kategori public…? Terus kak, yang other document itu maksudnya apa juga, apa misalnya mungkin sertifikat prestasi yang bisa mendukung aplikasi kita..? Maaf nanya banyak soalnya ku udah baca handbook nya tapi tidak nemu penjelsan ini. Makasih kak

    Like

    1. Ada pertanyaan yang lupa, hehe. Masil soal doc evidence kak.
      Itu yang Letter of Offer maksudnya gimana kak…? Wajib juga kah…? Dan list of publications…?

      Like

    2. Halo Mufti,

      Employer/authotiry statement maksudnya surat rekomendasi dari atasan (bila sudah bekerja).

      Ya, other documents dalam pengalaman saya adalah sertifikat-sertifikat penghargaan yang diterima khususnya yg relevan dengan data yang diisi sebelumnya. misal: dalam section Professional Membership saya menulis sebagai “Member” dari international TESOL Association, jadi saya lampirkan sertifikat TESOL, dan melampirkan juga surat pengalaman kerja di perusahaan sebelumnya (karena ada section previous employment).

      Untuk Letter of Offer dan List of Publications sendiri seingat saya saya engga mengisi itu karena engga punya.

      Like

      1. Apakah surat rekomendasi dari atasan tsb format nya sama dengan surat rekomendasi yang diminta dari dosen (yang format nya ada di handbook AAS). Kalo boleh tau kaka dulu waktu apply apakah menyertakan surat rekomendasi ini juga di documentary evidence?

        Like

  4. Kak saya bingung harus mengacu ke policy handbook atau website AAS untuk Indonesia untuk liat supporting dokumen..
    Jadi, di policy handbook menyertakan salian KTP/passport tapi di web untuk Indo hanya di katakan proof of citizenship.. Jadi, baiknya mengikut yang mana kak? Pengalaman kakak dulu waktu apply, apakah submit KTP/Passport versi salinan atau yang aslinya kemudian di scan? Makasih

    Like

    1. Halo Yasmin,

      Policy handbook berlaku secara global untuk seluruh dunia. Nah, dalam konteks Indonesia, kita juga tetap harus mengacu ke policy tertentu khusus Indonesia, yang bisa dilihat dari website Australia Awards Indonesia, brosur untuk Indonesia.

      Sebenarnya handbook dan web AAI sudah sejalan. Proof of Citizenship itu versi Indonesia ya KTP, atau bisa juga langsung menggunakan Passport (Karena Pasport itu bisa dibilang KTP Internasional). Jika memang belum punya paspor, ya gunakanlah KTP (seperti yg disyaratkan)

      Pengalaman saya dulu: Saya cuma pakai Scan Passport asli.

      Like

    2. Saya pikir sistem Scan itu tidak membutuhkan dokumen salinan/fotokopian. Semua yang butuh untuk di-scan mestinya dokumen asli bukan dokumen fotokopian (kecuali kalau dokumen fotokopian itulah satu-satu nya file tersisa karena yang asli sudah tidak ada/ hilang).

      Like

      1. Pada bagian documentary evidence apakah kaka hanya upload transkrip dan ijazah yang sudah di legalisir aja ataukah dalam 1 file nya ada dua dokumen yang disatukan (versi legalisir dan terjemahan nya) sekeligus kemudian di upload?

        Like

  5. Halo kak… saya mau bertanya tentang surat rekomendasi dari kampus. Apakah ketika meng-upload dokumen tsb harus dalam satu file (pdf) atau di pisah, jika kita memiliki lebih dari satu surat rekomendasi dari dosen? Mohon infonya kak, thanks 🙂

    Like

      1. Terima kasih infonya kak. Oya kak mau nanya lagi nih, waktu kakak upload surat rekomendasi dari atasan, dimasukkan di document type apa kak? apakah masuk di referee report atau employer/authority statement kak?
        Thanks 🙂

        Like

  6. Terima kasih infonya kak. Oya, kak setelah submit form application kita di OASIS, berapa lama prosesnya? Saya sudah submit tapi masih pending processing. Dan apakah tidak masalah jika kita log out tapi masih pending processing?

    Like

    1. Submitnya telah berhasil kak.

      Saya ingin tanya lagi kak tentang OASIS ID. Untuk OASIS IDnya bisa dilihat dimana kak? Saya lihat di email saya, ada keterangan “Your Application (AAS19xxxxx)”, apakah itu adalah OASIS ID saya?

      Like

  7. terimakasih info nya kak
    salam saya fiqoh
    saya mau nanya kita kan ada ngisi univ tujuan ,jika misalnya nnti keterima apa boleh ganti universitas?

    Like

    1. Halo Fiqoh,

      Ya, boleh. Banyak yang seperti itu, setelah diterima dan mengikuti PDT di Jakarta, para awardee ini mendapatkan pembekalan dan arahan, seminar, konferensi, pameran pendidikan Australia dan lain-lain untuk menetapkan keputusan akhir mereka tentang universitas tujuan.

      Yang tidak boleh ditukar adalah jurusan/ bidang study diambil. Kenapa begitu? Karena salah satu kriteria diterima nya para candidate itu ialah atas pertimbangan prioritas kemanfataan masa depan jangka panjang bidang study yang telah dipilih.

      Jadi, pindah university boleh, asal bukan pindah jurusan. Begitu.

      Sukses!

      Like

      1. Begitu yaa kak, terimakasih banyak ya kak
        1 lagi kak, sepengatuan kak yanri ada gak awardee yang lulus tapi tanpa surat rekomendasi?

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s