Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

Barangkali pembaca sudah tidak asing lagi dengan salah satu beasiswa pendidikan yang sangat bergengsi untuk program Magister dan Doktor yang diberikan oleh pemerintah Australia kepada masyarakat Indonesia. Ya, beasiswa tersebut ialah Australia Awards Scholarship (AAS). Beasiswa ini memberikan kesempatan bagi Anda untuk belajar dan mendapatkan pengalaman perkuliahan langsung di kampus-kampus ternama yang ada di Australia.

Baca juga: Tips AAS saya

Perlu diketahui juga bahwasanya beasiswa ini menyediakan dana yang sangat teramat besar bagi Anda. Pendaftaran beasiswa Australia Awards setiap tahunnya dibuka mulai dari 1 Februari sampai 30 April dan prosesnya dilakukan secara online. Menurut saya, beasiswa Australia Awards merupakan program beasiswa yang sangat ringan prosedur administrasinya dan sangat berbeda dengan beasiswa-beasiswa lainya. Mengapa begitu?

1. Karena AAS tidak mensyaratkan para pelamar untuk menulis satu esai pun. Serius???! 😀 Ya, memang semudah itu. Nah, di dalam formulir aplikasi, Anda hanya akan menemukan sekurangnya lima pertanyaan berbeda yang harus dijawab dengan batas maksimal sebanyak dua ribu huruf tentang rencana pribadi kedepannya. Saya ulangi 2000 huruf (2000 characters), ya ini mungkin tak lebih dari 2 paragraf lah. Apa saja detil pertanyaan tersebut? Baca lebih lanjut disini. *Tambahan lagi, AAS cuma mensyaratkan IELTS 5.5 untuk pelamar S2 dan IELTS 6 untuk S3. sedangkan apabila menggunakan TOEFL (PBT) 525 untuk Master dan 550 untuk PhD

2. Selanjutnya, beasiswa ini juga tidak mensyaratkan surat tanda diterima di salah kampus tujuan di Australia (Letter of Acceptence atau LoA) karena proses ini akan diuruskan langsung oleh pihak Australia Awards Indonesia (AAI) bila Anda telah resmi terpilih sebagai awardee. Wow??!! Enak bangeett?? Ya, banget. Kalaupun seandainya Anda sudah punya sebelumnya, ya tidak masalah, LoA itu juga tidak digunakan lagi nantinya 😀 Ini pengalaman kawan-kawan saya sesama awardee.

Baca juga: Kamu Yakin Mau Apply Beasiswa Luar Negeri?

3. Lalu, apa kemudahan berikutnya? Anda tidak disyaratkan mengurus surat-surat keterangan, seperti; Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Surat Keterangan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba, Surat Keterangan Bebas TBC, apalagi Surat Keterangan Pengantar RT/RW/Lurah/Camat/Bupati/Gubernur/ Presiden. Ups, hehehehe 😀 Ya ya engga ada surat itu. Satu-satunya surat yang diminta (ketika Anda telah dinyatakan lulus, harus dibawa ke lokasi Pre-Departure Training/PDT) ialah SKCK. Saya ulangi, surat ini disiapkan apabila Anda dinyatakan diterima/ lulus AAS. Nothing to lose banget. Engga ribet dan sangat engga ngerepotin 😀

4. Kemudahan lainnya ialah dalam tahapan seleksi. Jika Anda melamar AAS, Anda hanya akan melalui tahapan pengisian kelengkapan data online dan apabila lulus tahapan tersebut, Anda akan diundang untuk mengikuti tes IELTS sekaligus Wawancara Studi (biasanya dalam hari yang berurutan). Tes IELTS (yang mahal itu) dibiayai oleh pihak Australia, jangan khawatir 😀

Baca juga: Wawancara AAS

5. Terakhir, mungkin saya bisa katakan bahwa durasi wawancara AAS cukup singkat, memakan waktu tak lebih dari 20 menit untuk setiap kandidat.

Nah, kurang lebih nya begitu yang dapat saya ceritakan seputar kemudahan tahapan seleksi Beasiswa Australia Awards. Bagi Anda yang berminat melamar beasiswa Australia Awards, Saya ucapkan selamat berjuang dan semoga sukses!

Sekian dan terima kasih. ☺

Untuk beberapa cerita detil lainnya, baca juga: Tips AAS saya

Yanri Ramdhano is an Indonesian educator and a news presenter of Jambi TV. He is also an Awardee of Australia Awards Scholarship, and he is currently studying Master of Education at Victoria University, Melbourne, Australia. He is a teacher in the English Village, Pare - Kediri, East Java, Indonesia; was an alumnus of IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016; a Counsellor of Pre-service English Teacher EPIC Camp 2016 RELO US Embassy Jakarta; a Camper of RELO EPIC Camp 2015 US Embassy Jakarta; an Ambassador of Indonesian Language for Jambi Province 2013-2014; a teacher at MEI English Course Jambi 2012-2015.

44 thoughts on “Lima Kemudahan Seleksi Beasiswa Australia Awards (AAS)

    1. Halo, Mbak Wina.

      AAS memberikan izin bagi awardee untuk membawa keluarga. Namun, ada beberapa catatan yang harus diketahui:

      1. Biaya hidup keluarga adalah tanggungan pribadi awardee (Sebenarnya uang saku beasiswa Australia Awards sudah lumayan cukup untuk membiayai hidup pasangan dan anak, harus bijak mengatur keuangan)

      2. Boleh membawa keluarga atau pasangan apabila telah melewati proses satu semester kuliah. (Gunanya untuk memastikan awardee sudah settle terlebih dahulu di Australia, sehingga bisa membantu keluarga beradaptasi dan memperkecil resiko gangguan teknis study)

    1. Halo Nadia, Program Master disyaratkan 2 rekomendasi. Dari dosen S1 dan/atau atasan.

      Sementara untuk S3, selain rekomendasi, juga ada bukti korespondensi dengan calon profesor pembimbing di Australia.

      1. Hallo bg
        Berarti surat rekomendasinya hrus dalam bahasa inggris ya? Dan apakah boleh surat rekom dari dosen kampus lain bukan kampus asal tempat kita menempuh s1?? Tq

        1. Ya harus bahasa Inggris bro. Intinya surat rekomendasi itu diberikan oleh yang kenal dekat dengan kita. Baiknya kampus sendiri, karena yang dinilai dari surat rekom itu adalah performa kita di institusi tempat kita pernah berada

  1. Sore Ka. Salam kenal. Thanks infonya bermanfaat sekali.
    Ingin bertanya Ka. Saya berniat daftar tahun ini. Tetapi program yang saya daftar itu bisnis. Sebenarnya kan masuk ke economics sesuai dengan salah satu bidang yang dibuka oleh AAS. Hanya apakah pemilihan bidang seperti bisnis mempengaruhi penilaian? harus jurusan-jurusan khususkah (jurusan yang tidak ada di Indonesia)?
    Terima kasih ya sebelumnya.

    1. Selamat malam (waktu Melbourne) Rande,

      Menurut saya, selama bidang itu masuk di dalam kategori yang disediakan oleh AAS, semua itu adalah prioritas.

      Jurusan apapun yang diambil selama itu memberi manfaat bagi individu dan lingkungan, semua baik dan bisa dipertimbangkan.

      Ada banyak kriteria lain yang lebih penting di AAS selain poin pemilihan jurusan.

      Sukses!

  2. Dear Mas Yandri,
    Izin bertanya, berdasarkan website AAS, proses pendaftaran perlu dilakukan melalui OASIS, namun setelah saya go through seluruh panduan, total ada 3 submission kah yang perlu dilakukan:
    1. https://oasis.dfat.gov.au
    2. https://www.cognitoforms.com/AustraliaAwardsInIndonesia1/AustraliaAwardsInIndonesiaAdditionalInformationFormIntake2019
    3. https://australiaglobalalumniinindonesia.org/lta/intake-2019-25/register

    Apakah submission seharusnya 1 + 2 atau 3

    atau

    submission 1+ 2 + 3

    Karena form pada link nomor 2 dan 3 sepertinya serupa. Mohon advicenya Mas, terima kasih sebelumnya

    Regards,
    Sahid Ramdhani

    1. Halo Mas Sahid,

      Tahun lalu kami cuma isi aplikasi OASIS saja. Sepertinya tahun ini ada beberapa perubahan kebijakan.

      Saran saya ikuti instruksi nya dengan hati-hati dan lengkapi saja apa yang dibutuhkan. Bila memang harus isi tiga, ya submit saja langsung ke tiga link tersebut.

  3. Hai kak,

    I’ve been reading your posts regarding the whole Scholarship process and i think it’s really helpful and clear. Thank you!
    Saya mau bertanya tentang poin no.4 di blog kakak ini, jadi kita ga perlu IELTS dulu sebelum mendaftar? Atau apakah kita harus ttp IELTS dulu dan menyertakan hasilnya di pendaftaran online dan kemudian ujian lagi apabila lulus seleksi dokumen?

    Thank you so much kak.

    Regards,
    Chyntia

    1. Hi Chyntia,

      Thank you for reading, and I am glad it can be helpful.

      Mengenai persyaratan IELTS, AAS memberikan syarat yang cukup ringan: kita bisa apply AAS dengan TOEFL 520 atau dengan IELTS 5.5. Artinya, bila memang belum punya sertifikat IELTS, kita bisa pakai TOEFL.

      Nah, di pengalaman saya, saya memang tidak punya sertifikat TOEFL, karena saya memang dari dulu concern dan prefer IELTS. Jadi, saya apply dengan IELTS langsung utk disertakan. Namun, Setelah lulus dokumen, saya tetap harus ikut tes IELTS lagi yang diadakan AAS karena sertifikat IELTS saya sudah dikeluarkan lebih dari tiga bulan sebelum wawancara dan IELTS AAS.

  4. Halo kak, bermanfaat sekali informasinya. Thank you for sharing. Aku mau tanya untuk program master, apakah harus ada surat rekomendasi? Gimana dengan formatnya? Kalo sudah berhenti dari pekerjaan, apakah harus minta surat rekomendasi dari dosen dua-duanya?

    1. Halo Gebie, format/ blangko surat rekomendasi AAS disediakan di website Australia Awards Indonesia dengan judul “Academic Referee Report Form”. Kalo memang tidak sedang bekerja, saya anjurkan minta rekomendasi 2 dosen. Semangat, sukses!

      1. Kalau udah kerja, referee reportnya gak usah di upload ya? Atau referee report untuk yang sudah kerja di ganti jadi Employer statement?

        1. Referee report pada dasarnya bukan syarat wajib.

          Namun, pengalaman saya waktu melamar 2017. Saya punya rekomendasi langsung dari atasan (Employer Statement). Selain itu, saya juga punya 1 referee report dari dosen di kampus S1 saya dulu.

  5. Dear Kak Yanri,

    Terima kasih atas informasinya yang sangat bermanfaat. Akan tetapi, pertanyaan saya mungkin agak berbeda dari penanya lain. Saya ingin minta pendapat Kakak, apakah apabila saya ingin kuliah sambil kerja di Australia (tentu saja part-time) sebagai penerima beasiswa AAS apakah memungkinkan?

    Terima kasih Kak.

  6. Halo kak, i was wondering if you know gimana caranya kita bisa mendapatkan surat rekomendasi dari salah satu dosen dari universitas di australia? Saya tau kk blm punya pengalaman untuk beasiswa S3, tapi mgkn barangkali kaka tau, terimakasih kak! Sehat selalu

    1. Halo mbak,

      Yang saya dengar dari teman-teman S3, mereka langsung email Profesor yang dituju dengan menyampaikan rencana kita bahwa akan berkuliah di universitas tersebut dengan riset yang memang sesuai dengan bidang profesor yg dituju itu. Lampirkan juga proposal research nya. Jika memang rencana riset kita itu cocok, profesor tersebut akan terima.

      Kurang dan lebih nya begitu.

      Teman-teman pembaca lain yg punya pengalaman dengan senang hati saya minta untuk berbagi di kolom ini.

  7. Halo mbak. Saya mau tanya lagi nih. Di kolom surat referensi tertulis “Please comment on evidence of the applicant’s research potential and achievement (such as the outcomes of their research experience and training, including university studies, publications, papers, and other relevant work) and any other comments relevant to the applicant’s admission to a PhD (maximum 300 words).” Apakah ini diisi untuk yang ingin PhD saja?

    1. Halo Syarifah,

      Saya juga lupa detil nya, tapi mungkin ya setiap skill nya minimal 5.5 juga. Untuk lebih lengkap baiknya cek brosur atau policy handbook.

      Sukses!

  8. Hallo Kak, saya ingin tanya, untuk mendaftar AAS program master apakah perlu dokumen akta, KK, KTP, ijazah, transkrip yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dileglisir notaris? Apakah wajib harus diterjemahkan ke bahasa Inggris?

  9. selamat siang pak yanri. blognya sangat membantu sekali. ada yang ingin saya tanyakan terkait dengan refereee report. pada bagian akhir ada pertanyaan seperti ini : “please comment on evidence of the applicant’s research potential and achievement (such as the outcomesof their research experience and training, including university studies, publications, papers, and other relevant work) and any other comments relevant to the applicant’s admission to a PhD”

    yang ingin saya tanyakan apakah seperti saya yang ingin melanjutkan double degree meminta atasan untuk mengisi itu juga ataukah itu berlaku untuk awardee yang mau mengambil doktor?

    yang kedua, apakah AAS memperbolehkan kami yang sudah S2 di dalam negeri untuk mengambil double degree jugakah? terima kasih pak yanri

    1. Hai Yeyen,

      1. Comment di bagian akhir referee report itu untuk PhD, yang mengisi biasanya rekomendasi dari kampus asal kita, bukan dari atasan.

      2. Saya belum tau pastinya ini dan belum pernah dengar aturan larangan, menurut saya sah-sah saja. Namun, saya ingat ada beberapa orang dosen saya dulu yang sudah S2 di dalam negeri, kemudian ambil AAS untuk program master lagi.

  10. Kak mau tanya, kalau misal saya gapunya referee report, apakah otomatis ineligible? Karena saya dari daerah dan mepet sekali untuk meminta surat itu (dan kesalahan saya juga tidak baca ketentuan di awal 😅)

    1. Hai Laila, menurut persyaratannya gimana?

      Saya juga sudah lupa detil nya dan engga terlalu paham untuk yg tahun ini. Tapi saya dengar dari pelamar tahun ini, katanya referee report itu engga wajib. Artirnya bila memang belum punya, berarti memang engga apa-apa, dan eligible.

  11. hallo kak yanri, saya mau bertanya apakah bisa kita mengambil jurusan yang berbeda dari jurusan yang sudah di prioritaskan oleh pihak AAS ? kebetulan saya ingin mengambil jurusan pendidikan. mohon saran dan masukannya. terimakasih kak

    1. Jurusan kependidikan termasuk dalam bidang prioritas AAS.

      Walaupun rencana jurusan tidak termasuk dalam list prioritas AAS, tetap boleh melamar dan berpotensi untuk lulus.

      Tips: – Rencana study dari jurusan tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat.

  12. apakah jika kita udah lulus S2 diindonesia dan ingin mendapatkan beasiswa master di australia bisa???jadi kita dapat double degree untuk master..atau harus apply untuk S3???

  13. Hai mas Yanri,
    Terima kasih atas informasinya. Sangat membantu. Kebetulan saya sangat tertarik di bidang pendidikan tetapi kerja saya masih belum in line dengan pendidikan, apakah memungkinkan untuk mendaftar master of education walau latar belakang pekerjaan sebelumnya tidak ada kaitannya dengan pendidikan? Mohon informasinya,

    Terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *