CAMP EPIC/TESOL/RELO/USA/IVLP

Baltimore, kesan pertama

Baltimore adalah kota pertama di Amerika Serikat yang pernah saya kunjungi dalam sejarah hidup saya. Kota ini menyimpan berjuta kenangan. Eh! Terlalu lebay πŸ˜€ Yah, setidaknya, banyak momen yang terekam, banyak kesan yang tersimpan, banyak kenangan yang selamanya akan abadi dalam ingatan. Weh, bukan main πŸ˜€ oke serius.

Jadi ceritanya pertama kali mendengar kata Baltimore akhir tahun lalu ketika pengumuman program IVLP itu dirilis oleh Kepala Departemen RELO US Embassy Jakarta, saya sama sekali tidak menyangka ternyata di Amerika Serikat ada kota yang bernama Baltimore. Huh, santai aja yah. Ya, kita sama-sama belajar geografi, saya juga beberapa tahun lalu waktu masih ngebet pingin ikutan tes seleksi pertukaran pemuda antar negara sudah mulai menghafal daerah-daerah dan nama kota yang ada di Amerika. Saya hafal kota-kota bagian di Kanada. Miris, bagi saya pribadi, sebelum tempat itu saya kunjungi, cukup sulit untuk menghafal nama-nama daerahnya apalagi kalau cuma mengandalkan peta. Saya harus mengalaminya.

Yang saya tahu tentang Amerika Serikat itu yah cuma New York, Washington DC, Las Vegas, Los Angeles. Apa lagi? Texas, San Francisco, California. Jujur saja, memang begitu adanya. Sama halnya ketika orang Amerika ditanya tentang Indonesia. Yang mereka tahu hanya Jakarta dan Bali. Padahal, kan Indonesia itu juga luas, kaya akan pulau nya. Keindahan alam terbentang dari Sabang sampai Marauke. Oke, cukup tentang letak geografis.

Baltimore merupakan kota pelabuhan terbesar di Amerika Serikat. Kota ini berjarak kurang lebih satu jam perjalanan darat dari kota Washington DC. Ekspresi pertama begitu menginjakkan kaki di Kota ini, ternyata kota ini sangat dingin, lebih dingin dari Washington DC. Angin bertiup begitu kencang, karena posisinya di pinggir laut.

Selain itu, angin itu juga sangat dingin dan menusuk kedalam daging. Huh, butuh pakaian yang sangat tebal bagi kita orang Indonesia yang pertama kali datang ke kota ini. Tak lupa sarung tangan dan kaus kaki.

Meskipun setiap gedung menggunakan penghangat ruangan. Di kamar hotel tempat saya menginap, standar suhunya mulai dari 16o s/d 75o celcius. Apa? 16o celcius itu kan standar dingin tertinggi untuk pengaturan air conditioner di negara kita. Bagi mereka ini sudah cukup panas. Huft. Pengaturan suhu tertinggi tidak begitu direkomendasikan mengingat udara yang dihasilkan adalah melalui mesin, jadi tidak cukup sehat untuk bernafas di dalam ruangan. Kita bisa menyetel heater sekitar 50-60o celcius. Yah, cukup lah. Walau masih dingin. Setidaknya bukan 8-10o seperti suhu di luar ruangan.

Hotel ditempat saya menginap kebetulan berada dekat dengan harbor, jadi setiap hari bisa melintasi dan mengunjungi kawasan ini. Kota ini begitu indah, tenang dan tentram. Walau bukan kota utama, tapi setiap sudut kota ini memiliki keunikannya sendiri untuk dijelajahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s