Shalat Jumat di Amerika Serikat

Shalat Jumat di Amerika Serikat

Ini adalah Jum’at yang kedua saya dan teman-teman IVLP OD TESOL Leadership Exchange lalui di Amerika Serikat. Jumat kali ini kami telah berada di San Francisco. Dalam kesempatan kali ini semua dari kami berkesempatan mengunjungi masjid yang sama dalam satu waktu. Para pria shalat di bagian depan, sementara wanita di bagian belakang.

Banyak teman yang bertanya-tanya tentang bagaimana beribadah sebagai muslim di Amerika Serikat. Akhirnya saya menyadari sendiri, tak sulit menemukan masjid di Amerika Serikat. Jumat sebelumnya pun juga begitu, waktu itu saya masih berada di Baltimore, Maryland District, berjarak satu jam perjalanan darat dari Washington DC. Begitupun di Washington DC. Alhamdulillah kami selalu menemukan komunitas muslim itu.

Masjid.JPG
San Francisco

Masjid disana tidak seperti masjid-masjid di Indonesia. Beberapa masjid tidak berdiri sendiri, bersandingan dengan gedung-gedung lainnya. Jadi kita tidak menemukan masjid berkubah dengan ciri khas masjid biasanya. Sekilas tidak terlihat seperti masjid. Namun demikian tentunya setiap Masjid memiliki nama yang diletakkan di sekitaran gedung itu, di jendela maupun di atas pintu masuk. Di program ini, meskipun kami didampingi oleh dua orang Liasons yang non-muslim. Namun toleransi agama mereka sangat tinggi. Mereka yang mengantarkan kami ke masjid ini, mereka yang selalu menunjukkan dan mengantarkan kami ke tempat penjual dan restoran makanan halal di setiap tempat dan kota baru yang kami kunjungi.

masjid SF.jpg
San Francisco

Ada pengalaman haru lainnya yang saya saksikan ketika shalat Jumat di sebuah Masjid di Baltimore. Masjid ini tampak sedang direnovasi. Jadi, selepas shalat dan berdoa, ketika semua jamaah hendak keluar meninggalkan masjid sang khatib yang tadi memberikan khutbah dan memimpin kami shalat langsung mengambil microphone dan menyampaikan isi hatinya tentang keinginannya segera menyelesaikan perbaikan Rumah Allah ini. Beliau mengakui bahwasanya beliau dalam perjalanan (safari) berpindah dari masjid ke masjid. Minggu ini insyaAllah akan menjadi jadwal terakhir safari beliau memimpin ibadah di masjid itu. Beliau meminta kemurahan hati para jamaah untuk menyisihkan sebagian harta mengumpulkan dana USD2000.

BPRO0372.JPG
Baltimore, Maryland District

Semua orang akhirnya berlomba-lomba memberikan uangnya, terkumpul mulai USD500, USD900, hingga USD1800, dengan nasihat-nasihat yang beliau sampaikan dan doa yang beliau panjatkan bagi jamaah yang telah bersedekah. Namun, di detik-detik terakhir dana itu mentok di USD1900, artinya masih tersisa USD100 untuk menjadikan genap USD2000. Alhamdulillah, dalam waktu kurang lebih 30 menit, dana sebanyak itu dapat terkumpul. Tidak butuh waktu lama untuk merealisasikan cita-cita bagi kesempurnaan pembangunan masjid ini. Semua orang mengucapkan takbir, semua orang meninggalkan masjid dengan perasaan lega. Begitupun saya, merinding, terharu, bergetar, semua menjadi satu. Begitu tinggi solidaritas dan kesadaran mereka jamaah muslim di sini.

Di Indonesia, untuk membangun sebuah masjid kita harus menggelar kotak amal di tengah jalan bahkan menenteng-nenteng kotak amal tersebut kemana-mana, dengan begitupun pembangunan masjid masih lambat dan tak rampung-rampung.

Yanri Ramdhano is an Indonesian educator and a news presenter of Jambi TV. He is also an Awardee of Australia Awards Scholarship, and he is currently studying Master of Education at Victoria University, Melbourne, Australia. He is a teacher in the English Village, Pare - Kediri, East Java, Indonesia; was an alumnus of IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016; a Counsellor of Pre-service English Teacher EPIC Camp 2016 RELO US Embassy Jakarta; a Camper of RELO EPIC Camp 2015 US Embassy Jakarta; an Ambassador of Indonesian Language for Jambi Province 2013-2014; a teacher at MEI English Course Jambi 2012-2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *