CAMP EPIC/TESOL/RELO/USA/IVLP

Autonomous Language Learning, Professor Christian Faltis, UC Davis

Di kesempatan lain dalam kunjungan kami di Sacramento. Kami disambut oleh Associate Director of International Initiatives, School of Education: University of California Davis, Mr Peter Hendricks. Beliau merupakan Dekan Fakultas Pendidikan UC Davis. Kami disambut hangat dan diajak menuju ruang pertemuan. Beliau membuka pertemuan seraya menantikan kehadiran seoarang Profesor yang akan menyampaikan pemaparannya tentang pembelajaran bahasa.

Tak lama kemudian, seorang lelaki tua datang, dia adalah Profesor Christian Faltis. Beliau mengakui baru saja kembali dari pertemuan sebelumnya di luar kota dan mengejar waktu guna bertemu muka dengan kami. Satu kehormatan besar bagi kami dapat berkenalan dan berdiskusi langsung dengan para ahli ini. Beliau menyampaikan materinya dengan judul “Autonomous Language Learning When Language is a Sosial Practice: Implications for Teacher Educators.”

Beliau memaparkan bahwasanya seorang pembelajar bahasa yang baik itu pengambil resiko dan berani mencoba. “Making errors is how you progress”. Making errors dibedakan menjadi dua yaitu local dan global. Local maksudnya adalah kesalahan dalam berbahasa dalam proses pembelajaran bahasa masih dapat ditolerir dan diterima, baik makna dan konteks tidak jauh menyimpang dari maksud yang ingin disampaikan. Sebaliknya, global errors ini merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh language learners yang harus segera diperbaiki oleh educators.

Selanjutnya, beliau menyampaikan bahwasanya proses pembelajaran sebuah bahasa baru tidak terlepas dari pengaruh peran Akulturasi (Role of Aculturation) yang ada pada diri setiap language learner. Dalam hal ini, beliau menyampaikan sebuah teori Seliger (1977) yang membedakan dua karakter dari pembelajar bahasa, yaitu High Input Generators (HIGs) dan Low Input Generators (HIGs). Selain itu keadaan psikologis dan sosial juga mempunyai porsi dalam mempengaruhi seseorang mempelajari sebuah bahasa yang baru. Seorang yang sangat kuat memegang prinsip hidup atas budayanya sendiri cenderung menutup diri dari bahasa-bahasa baru. Ketika kita belajar bahasa, secara tidak langusng kita akan belajar budaya dari pemilik bahasa tersebut.

Tentunya ada banyak sekali poin-poin penting dalam perkuliahan berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini. Namun, tidak semua bisa saya narasikan di dalam tulisan ini. Semoga sepenggal tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s