Self-motivation

Hidup itu proses, kawan!

Yanri Ramdhano.jpg

“Keberhasilan itu butuh proses, proses yang tak hanya harus dilalui, tapi juga dinikmati

Alhamdulillah, saya baru saja kembali dari International Visitor Leadership Program (IVLP) On Demand (OD) TESOL Leadership Exchange di Amerika Serikat di Department of State (USA). Dalam program ini, saya berkesempatan mengunjungi beberapa state; TESOL Convention di Baltimore-Maryland District, dan IVLP di Washington DC, California (Sacramento dan San Francisco).

Menjadi bagian dari alumni IVLP merupakan satu hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ternyata program ini lebih prestigious dari program-program yang saya impikan. Dalam ikatan US Exchange Alumni seluruh dunia.

Baiklah, saya mulai sejak tahun 2013, waktu itu saya hanya mengenal satu-satunya program ke luar negeri gratis yaitu melalui Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) di bawah Kementrian Pemuda dan Olahraga. Dengan persiapan yang saya sendiri juga tidak bisa mengukurnya, di tahun 2014 saya ikuti seleksi ini. Yah, Alhamdulillah, saya harus tetap bersyukur, dengan posisi cadangan 1 ke Kanada. Dengan begitu impian saya untuk berangkat ke Amerika di tahun itu pupus. Ini merupakan pukulan telak tepat di dada saya, berbagai macam hal berkecamuk di dalam pikiran. Dengan tetap mengevaluasi diri, saya harus bangkit, berproses, terlebih saya masih memegang amanat sebagai Duta Bahasa Provinsi Jambi 2013/2014, mengabdikan diri di Kantor Bahasa Provinsi Jambi sambil terus belajar dan belajar.

Sepanjang sisa tahun 2014 hingga menjelang seleksi PPAN 2015, hari-hari terasa begitu lama bagi saya. Bawaan emosi yang tak stabil 😀 Namun, tetap, saya fokuskan diri untuk belajar dari kekurangan di seleksi sebelumnya, mempelajari kesenian jambi (adat, tarian dan lagu daerah), meningkatkan skor TOEFL yang pada waktu itu masih pas-pasan, membaca lebih banyak informasi dan perkembangan negeri termasuk juga negara-negara tujuan PPAN, sepanjang tahun itu saya habiskan waktu di kampus (sekali-sekali, karena saya baru saja selesai KKN), di kantor bahasa hampir setiap pagi hingga siang hari, tetap mengajar di kursus pada sore hari, dan memberikan waktu untuk belajar khusus PPAN pada malam harinya.

Di awal tahun 2015, waktu-waktu sulit bagi saya. Harus membagi waktu antara pekerjaan yang baru saya mulai sebagai presenter berita di Jambi TV, mengambil mata kuliah di semester 3 yang pernah saya tinggalkan karena cuti sekaligus menggarap skripsi, dan mengajar privat bahasa inggris pada malam harinya.

 Pada waktu itu, saya tidak tahu, apa dampak dari padatnya jadwal terhadap masa depan saya. Yang saya tahu adalah, hidup itu tentang proses. Ini salah satu kutipan yang muncul dari dalam diri selama masa-masa berat saya waktu itu:

“Menangkanlah pertarungan dalam hidup, pertarungan melawan dirimu sendiri. Tetap tenang, teruslah berjuang. Harus bersabar, sabar, dan sabar lagi. Butuh proses, proses yang tak hanya harus dilalui, tapi juga dinikmati.”

Entah bagaimana awalnya.

Di awal bulan april 2015, ketua jurusan memberikan informasi tentang Program Pre-service English Teacher EPIC Camp yang diselenggarakan oleh RELO – US Embassy Jakarta. Program ini adalah Intensive training selama 2 minggu di Bandung langsung oleh Fellows (American Experts) khusus untuk mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris tingkat akhir. Kajur meminta saya untuk mengikuti seleksi program ini. Dengan semangat yang menggebu namun tetap dalam kepasrahan saya kerahkan seluruh perhatian kepada kesempurnaan esai yang harus saya tulis sebagai syarat program ini di bawah bimbingan Ibu Monalisa (Kajur PBI waktu itu) dan Bapak Syuaidi (Menjabat wakil rektor IAIN STS Jambi saat ini).

Apa yang saya dapat dari beliau (Bapak Syuaidi), esai yang saya tulis terlalu berbelit-belit, sampah, 😀 Lagi-lagi tamparan keras di muka saya. Saya terima dengan lapang dada dan mata yang berkaca-kaca. Alhamdulillah terima kasih, Pak. Nasihat bapak tertanam sangat dalam, di hati saya, selamanya. Ya, dengan bimbingan beliau ini., Alhamdulillah akhirnya di akhir bulan April 2015 esai saya terpilih masuk 22 besar terbaik dari jumlah pendaftar 250an seluruh Indonesia dan Timor Leste.

Lalu, bagaimana? Sembari menunggu jadwal keberangkatan training di Bandung yang diselenggarakan 1-15 Juni 2015 itu, hidup saya masih harus terus berlanjut. Ya, dengan jadwal yang padat dan serba mepet. Skripsi harus dirampungkan untuk diuji dalam waktu dekat pada bulan Mei. Seleksi PPAN 2015 di depan mata pada akhir Mei, dan saya sudah benar-benar siap untuk mengikutinya, juga pekerjaan: siaran dan mengajar privat. Hingga tiba waktunya Seleksi PPAN 28 -30 Mei 2015.

Kegundahan lain muncul di hati saya, tepat 1 Juni saat itu saya sedang dalam perjalanan dari Jambi ke Bandung untuk Training RELO, pihak Dispora Provinsi Jambi menelepon dan mengucapkan selamat atas kemenangan saya lolos PPAN 2015 IMYEP (Malaysia). Apa daya, pihak dispora tidak bisa menunggu lama, saya harus merelakan melepas kesempatan berangkat PPAN 2015 itu, memilih mengikhlaskan dan menjalani dengan serius training yang saya ikuti.

 Pre-service English Teacher EPIC Camp 1, di Bandung.

Ternyata, kami adalah Pilot Project dari program ini. Dan 22 orang inilah, kami bersatu di program nasional itu menjadi keluarga baru yang terikat erat sekaligus tim pengajar bahasa inggris muda yang profesional dan solid. Semua informasi dari Kedubes Amerika selalu ditawarkan oleh mereka kepada kami secara internal.

 Di akhir tahun 2015, RELO mengumumkan berturut-turut 2 peluang program yang bisa kami ikuti (namun tetap dalam seleksi internal 22 orang ini). Yakni, 1) Kesempatan untuk menjadi Counselor pada program Pre-service English Teacher EPIC Camp 2 tahun 2016 di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat dan 2) Menjadi Delegasi dalam IVLP OD TESOL Leadership Exchange 2016 di USA. Wow???! Galau lagi. Mungkinkah saya bisa terpilih di salah satu dari peluang ini? Atau RELO memberikan kuota membagi sama rata kesempatan ini kepada kami. Yah, saya pasrah dan tetap menulis esai untuk kedua program ini lagi. Dan bagaimana hasilnya?

Alhamdulillah, rasa syukur yang sangat mendalam atas nikmat Allah yang tiada terkira. Saya lolos 2 program ini sekaligus, menjadi Counselor di Camp EPIC yang baru saja dilangsungkan pada awal tahun 2016 ini di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat dan Delegasi IVLP di awal bulan april 2016 ini di USA.

Saya mengerti sekali perjuangan dan pertarungan hebat yang kawan-kawan telah lewati, saya juga pernah dan tengah merasakan itu. Yakinlah, kata-kata seperti ini: “usaha tidak pernah menghianati hasil” berlaku bagi orang-orang yang berjuang dan bersabar. “Man shabara zafira” dan “Man jadda wajada” tidak sebatas kutipan semata.

10 thoughts on “Hidup itu proses, kawan!

  1. Subhanallah
    Sungguh.mengagumkan tulisan ini
    Betapa pentingnya kita menjalani sebuah proses berlandaskan kesabaran
    Semoga kita dapat mencontoh

    Like

  2. Tetaplah berjuang, bekerja cerdas tanpa keluhan. Rebut terus kesempatan jangan pernah lewatkan. Namun jangan pernah lupa ibadah….. Dhanu …. tetap tebarkan inspirasi….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s