Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan

Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan

WhatsApp Image a 2018-12-08 at 22.02.26
Lokasi: Gedung Putih (The White House), Washington DC, Amerika Serikat.

Pada zaman kuliah S1 dulu saya hanya tau pertukaran pemuda antar negara sebagai satu-satunya program ke luar negeri. Pesertanya diseleksi di tiap provinsi di bawah naungan dinas pemuda dan olahraga.

Baca juga: Bagaimana bila saya tidak punya prestasi apa-apa?

Di tahun 2014, kala itu saya sudah memasuki semester delapan bangku kuliah, saya baru benar-benar mendapatkan akses informasi tentang program tersebut dan memberanikan diri untuk ikut proses seleksinya. Hasilnya, saya hanya menempati peringkat ke enam sementara yang akan diterbangkan ke luar negeri urutan satu sampai lima.

Baca juga: Hidup itu proses, kawan!

Tak masalah, saya bangkit lagi, terus belajar dan memperbaiki diri untuk mengulangi proses seleksi tahun berikutnya. Saya tingkatkan skor TOEFL, perdalam dan perluas pengetahuan umum dan seni budaya lokal (Jambi), nasional serta negara tujuan termasuk juga isu internasional sekaligus melatih beberapa penampilan bakat yang akan saya tunjukkan pada tim penilai.

Di tahun 2015, saya ikut tes lagi dan alhamdulillah menang. Namun, saya batal berangkat dan harus mengikhlaskan karena di hari pengumuman itu saya tepat sedang dalam perjalanan baru saja mendarat di Jakarta menuju Bandung.

Saya ingat betul, itu adalah hari senin, 1 Juni 2015. Saya menerima telepon dari pegawai Dispora Jambi yang mengucapkan selamat atas terpilihnya saya. Tentu saya menyambut berita itu dengan antusias dan riang gembira. Akan tetapi, ketika saya menceritakan kronologinya bahwa saya sedang akan memulai program lain selama dua minggu ke depan di Bandung, pihak dispora tidak bisa menerima itu. Mereka menegaskan bahwasanya saya harus datang ke kantor dispora Jambi saat itu juga untuk mengurus dan mengisi berbagai macam dokumen administrasi yang akan segera dikirim ke pusat.

Apalah daya saya dan apa boleh buat. Saya harus membuat keputusan cepat di saat-saat genting seperti itu. Akhirnya dengan berat hati saya harus menerima kenyataan bahwasanya saya tidak bisa menjadi utusan Jambi dan harus digantikan oleh peserta lainnya cadangan saya di tahun itu.

Ya, saya fokuskan menjalani program yang waktu itu memang jelas-jelas akan saya lalui.  Program Nasional yang sedang akan saya ikuti pada saat itu ialah Camp EPIC. Camp EPIC atau Pre-service English Teacher Leadership Training, adalah sebuah program training nasional dan intensif bagi calon guru Bahasa Inggris atau mahasiswa tingkat akhir S1 Pendidikan Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Regional English Language Officer (RELO), US Embassy Jakarta. Di tahun 2015 itu pesertanya hanya 22 orang, yang terdiri dari 21 orang dari Indonesia dan 1 orang dari Timur Leste, dipilih berdasarkan seleksi ketat RELO dari ratusan pendaftar.

Baca juga: Apa itu Camp EPIC?

Untuk diketahui, pengumuman kelulusan program Camp EPIC ini saya terima di akhir bulan April, satu bulan sebelum kegiatan tersebut dimulai. Sementara itu, tiket penerbangan PP untuk ke Bandung per tanggal 1 dan 13 Juni program Camp EPIC ini sudah saya terima dua minggu sebelum keberangkatan. Nah, lantas kenapa saya masih juga mau mengikuti proses seleksi ppan yang diselenggarakan sekitar 28, 29, 30 Mei 2018 hari terakhir bulan Mei 2015? Karena saya tau bahwa bila saya lulus program pertukaran tersebut, saya baru akan diberangkatkan akhir tahun 2015 sekitar bulan Oktober atau November. Urusan administrasi di dispora setelah lulus itu memang benar-benar diluar ekspektasi saya.

WhatsApp Image b 2018-12-08 at 22.22.53
Camp EPIC 1, Pre-service English Teacher Leadership Program – Bandung, Jawa Barat

Di satu sisi, padahal, sejak awal kuliah saya ingin sekali ke luar negeri dengan ppan tersebut. Setelah proses di tahun pertama saya gagal dan akhirnya saya menangkan di tahun kedua, saya tetap saja tidak berkesempatan untuk menjadi bagian dari utusan itu. Namun, di sisi lain, ternyata Camp EPIC ini pintu gerbang saya ke program-program lanjutan berikutnya yang sifatnya Nasional maupun Internasional.

WhatsApp Image 2018-12-08 at 22.02.262
Enam orang Counsellor Camp EPIC 2, yang merupakan Alumni Camp EPIC 1

Setelah mengikuti program ini sebagai peserta di tahun 2015, Camp EPIC 1, saya direkrut menjadi Counsellor di Camp EPIC 2 pada Januari 2016 yang di selenggarakan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Di tahun yang sama juga saya beserta 8 orang alumni Camp EPIC 1 lainnya dinominasikan dan diberangkatkan ke Amerika Serikat mengikuti dua jenis program internasional sekaligus, yakni the 50th International TESOL Convention dan International Visitor Leadership Program (IVLP).

WhatsApp Image c 2018-12-08 at 22.22.53
Camp EPIC 2, Pre-service English Teacher Leadership Program – Bukittinggi, Sumatera Barat

Keberangkatan tersebut disponsori oleh RELO dan Department of States (Pemerintah Amerika Serikat). IVLP ini sifatnya rekomendasi khusus atau nominasi atau dengan kata lain, peserta yang mengikutinya adalah pilihan langsung dan atas dasar undangan pemerintah Amerika Serikat. Program ini tidak dibuka untuk umum dan pesertanya tidak melalui tahapan seleksi nasional seperti program Leadership Exchange ke AS sejenis lainnya.

WhatsApp Image 2018-12-08 at 22.02.26
Foto Bersama Kepala Departemen RELO US Embassy  Jakarta, di Baltimore dalam program International TESOL Convention

Dalam program ke Amerika Serikat itu, saya dan rekan-rekan lainnya berkesempatan untuk menghadiri acara tahunan yang ke 50 “International TESOL Convention” yang dihadiri oleh sepuluh ribu lebih pengajar Bahasa Inggris dan para ahli pendidikan khususnya di bidang Bahasa inggris dari seluruh dunia di kesempatan itu pula lah kami resmi menjadi bagian atau anggota dari International TESOL Association.

Baca juga: IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016

Dalam kesempatan itu, selain berlibur kami difasilitasi untuk mengunjungi beberapa institusi pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak, SMP, SMA dan universitas di beberapa States di Amerika Serikat, yang meliputi Baltimore MD, Washington DC, Sacramento (ibukota California) dan San Francisco.

Di tahun 2017 saya ikut ppan untuk yg ketiga kalinya, saya sama sekali tidak lulus program tersebut. Namun, Alhamdulillah Allah memberikan Australia Awards Scholarship (AAS) kepada saya.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwasanya tugas kita adalah melakukan apapun yang terbaik yang bisa dilakukan dan memperjuangkan setiap peluang dan kesempatan yang datang. Maka, akhirnya Allah Yang Maha Berkehendak yang menentukan hasilnya. Selaras dengan latar belakang pendidikan S1 saya, sejak saya lulus sebagai peserta di Camp EPIC 1 tahun 2015 itu saya mulai mengerti bahwasanya Allah mengarahkan saya menuju program yang memang sesuai dengan kebutuhan pengembangan diri dan peningkatan profesionalitas di bidang yang saya geluti, di Kependidikan dan Bahasa Inggris.

Baca juga: Menemukan Titik Balik Kesuksesan

Yanri Ramdhano is an Indonesian educator and a news presenter of Jambi TV. He is also an Awardee of Australia Awards Scholarship, and he is currently studying Master of Education at Victoria University, Melbourne, Australia. He is a teacher in the English Village, Pare - Kediri, East Java, Indonesia; was an alumnus of IVLP OD TESOL Leadership Exchange USA 2016; a Counsellor of Pre-service English Teacher EPIC Camp 2016 RELO US Embassy Jakarta; a Camper of RELO EPIC Camp 2015 US Embassy Jakarta; an Ambassador of Indonesian Language for Jambi Province 2013-2014; a teacher at MEI English Course Jambi 2012-2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *